16:59
16:59
Pukul 16:59.
Kabut tipis mulai turun dari lereng gunung, merayap pelan melewati kebun kopi dan petak sawah yang menghijau. Udara dingin khas pegunungan Jawa Timur membuat orang-orang memilih membungkus tubuh dengan sarung lebih tebal, sementara suara burung-burung mulai bercampur dengan dengungan motor yang pulang dari pasar kecamatan.
Di sebuah warung kecil di pinggir jalan desa, radio tua masih menyala. Seorang penyiar sedang membacakan berita tentang pejabat baru yang tersandung kasus.
Tentang janji yang kembali menjadi janji ala 'orang kita'.
Lalu, seperti biasa, setelah berita selesai, lagu dangdut diputar. Itulah sisi unik dari Negeri ini, sebuah Negeri bisa membuatmu marah pada pukul tiga sore dan membuatmu bergoyang lima menit kemudian.
Seorang lelaki tua yang duduk di bangku bambu terkekeh pelan; "Negeri iki kuat tenan." Tidak jelas apakah itu pujian atau sindiran. Mungkin juga keduanya.
Pukul 17:14.
Hamparan pegunungan berdiri kokoh seperti raksasa-raksasa tua yang telah menyaksikan terlalu banyak sejarah. Mereka melihat bendera berubah, melihat generasi demi generasi tumbuh dengan mimpi yang sama: bahwa besok akan lebih baik.
Lelaki tua itu melirik kearah Nokia kodok miliknya sambil menyeruput kopinya yang sudah mendingin.
Pukul 17:26
Di kejauhan, anak-anak bersarung berjalan ke tempat ibadah sambil bercanda. Mereka menertawakan hal-hal sederhana yang mungkin akan mereka lupakan esok hari. Mereka belum tahu bahwa ketika dewasa nanti, mereka akan hidup di negeri yang aneh.
Negeri yang kaya raya tetapi sering merasa kekurangan. Negeri yang religius tetapi gemar saling mencaci. Negeri yang mencintai kejujuran selama kejujuran itu tidak merugikan dirinya sendiri. Negeri yang setiap tahun mengeluh, namun setiap tahun pula berhasil bertahan.
Pukul 17:33.
Kabut semakin turun. Gunung-gunung menghilang perlahan di balik warna abu-abu. Radio tua masih berbunyi. Gelas mulai mengembun. Dan Indonesia masih berjalan dengan segala keadaannya. Dan akan tetap menjadi cerita yang tak pernah selesai ditulis.
---
Ditulis Oleh : Nathaniel Elliyas
(Santri Pengabdian Madrasah Al-Fatih)
----
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)