Beranda Kabar Berita Di Ambang Pintu
Di Ambang Pintu
Serambi Aksara

DI AMBANG PINTU

Di Ambang Pintu


Kalau takut hidup,

berhentilah pura-pura mati.


Kalau takut mati,

berhentilah pura-pura hidup.


Hidup itu seperti memakai celana;

Kau tahu di mana kakimu harus berhenti masuk.


Kita lahir tidak dibekali kartu garansi anti-sedih.

Melainkan cap tanggal kedaluwarsa di jidat sendiri.



Lalu buat apa menggigil di depan secangkir teh hangat?

Kalau cemas, lupakan dan tidur saja.


Dunia memang gemar melempar lelucon yang tidak lucu:

Disodorkannya rindu, lalu disusulkannya kehilangan.


Diajaknya kau menanam bunga.

Di tanah yang kelak dipakai untuk menguburmu juga.



Setiap pagi adalah lotre yang kita tebus dengan sisa kantuk.


Mimpi hanyalah rumah kardus yang siap rubuh disapu hujan.

Tapi dasar manusia, ia tetap saja bangkit dari ranjangnya.


Tetap menyeduh kopi.

Tetap nekat jatuh cinta.

Mungkin berani itu bukan soal dada yang membusung tak kenal gentar.


Berani adalah tetap santai mengunyah nasi,

meski tahu dunia bisa mengunyahmu kapan saja.



Mati itu biasa.

Takut juga lumrah.


Yang memalukan adalah kau berdiri bertahun-tahun di ambang pintu:

tak berani melangkah masuk ke ruang tamu.


Tapi tak punya nyali juga untuk beranjak ke kuburan.


Malaikat di pintu sana tidak akan bertanya,

"Kapan kau mati?" Ia mungkin hanya membuka buku catatannya.


Membetulkan kacamata, lalu bergumam:

"Maaf, sebelum kemari, apakah kau sudah sempat hidup?"


----


Ditulis Oleh : Nathaniel Elias (Santri Pengabdian Madrasah Al-Fatih)


---


Bagikan kabar kebajikan ini:

Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id