"KANG SNIPER" UMAT ...
"Kang Sniper" Umat ...
Beberapa hari sebelum Ramadan, tepatnya pada 17 Februari, sebuah telepon datang kepada salah seorang sahabat Bapak Arif Prayetna Allahuyarham. Pertanyaannya sederhana, tetapi alasan di baliknya membuat siapa pun yang mendengarnya sulit melupakannya.
Bapak Arif menanyakan siapa saja teman-teman di lingkungan orang tua santri Kuttab Al-Fatih Depok yang telah wafat.
Sahabatnya tidak bisa langsung menjawab. Ia meminta waktu untuk mengingat satu per satu. Namun Bapak Arif justru mulai menyebutkan beberapa nama yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Ternyata beliau sedang mengumpulkan nama bukan untuk sebuah pertemuan atau sekadar mengenang. Bapak Arif Prayetna Allahuyarham ingin bersedekah atas nama teman-temannya yang telah wafat, agar pahala sedekah itu diniatkan untuk mereka yang telah mendahuluinya.
Tidak lama setelah itu, Bapak Arif sendiri menyusul mereka.
Di situlah barangkali salah satu jejak paling kuat yang beliau tinggalkan. Ketika hidupnya sendiri telah berada di penghujung perjalanan, yang masih beliau pikirkan bukan hanya dirinya. Beliau masih memikirkan saudara-saudaranya.
Bagi orang-orang yang mengenalnya, kedermawanan Bapak Arif memang bukan sesuatu yang muncul pada hari-hari terakhir kehidupannya. ini telah menjadi bagian dari perjalanan beliau sejak lama. Di lingkungan Kuttab Al-Fatih Depok dan komunitas Al-Fatih, beliau dikenal sebagai salah satu relawan yang aktif bekerja di balik layar dalam berbagai program kebaikan.
Beliau terlibat dalam perjalanan Taawun dan Wakaf Depok, membantu berbagai program sejak Wakafinaja, Ilmuinaja, Kurbaninaja, hingga Quran Fest. Bapak Arif juga menjadi salah satu sosok di balik layar yang membantu administrasi Wakaf Tunai Al-Qordhul Hasan.
Namun mungkin ada satu julukan yang paling menggambarkan semangatnya dalam menyambut peluang berwakaf. Di berbagai grup WhatsApp lingkungan orang tua santri, ketika sebuah ajakan wakaf dibuka dan penawaran dimulai, Bapak Arif sering kali menjadi orang yang bergerak paling cepat.
Teman-temannya sampai menjulukinya "Kang Sniper".
Bukan tanpa alasan. Ketika peluang kebaikan datang, beliau sering menjadi salah satu yang pertama mengambilnya.
Jejak wakafnya kini tidak berhenti sebagai cerita. Sebagian telah menjelma menjadi bangunan dan sarana yang terus digunakan. Ada Masjid di Kuttab Al-Fatih Depok, ruang-ruang kelas Kuttab Al-Fatih Depok, bangunan Madrasah Al-Fatih, hingga kendaraan operasional yang digunakan dalam kegiatan Ahli Ilmu di Baitul Hikmah Nusantara.
Beliau memandang harta sebagai titipan dari Allah. Karena itu, selama masih berada dalam genggaman, harta tersebut harus digunakan untuk menciptakan sebanyak mungkin amal jariyah.
Tetapi yang membuat kisah Bapak Arif terasa lebih dalam bukan hanya apa yang beliau berikan ketika sehat. Beliau juga mengajarkan bagaimana menghadapi ujian ketika sakit.
Orang-orang di sekitarnya menyaksikan perjalanan sakit yang panjang. Namun beliau menjalaninya dengan sikap yang positif, sabar, dan ridha. Beliau tidak menjadikan kesulitannya sebagai beban yang terus dikeluhkan kepada orang lain. Bahkan di tengah ujian itu, beliau tetap menjaga hubungan baik dengan saudara-saudaranya, tanpa prasangka buruk.
Dan pada akhirnya, di sisa hidup yang dimilikinya, beliau masih mencari cara untuk memberi.
Mungkin itulah sebabnya kepergian Bapak Arif Prayetna Allahuyarham terasa sebagai kehilangan yang besar. Bukan hanya karena seorang dermawan telah pergi, tetapi karena seorang manusia yang hingga menjelang akhir hidupnya masih memikirkan umat, telah menyelesaikan perjalanannya.
Ada sebuah perkataan ulama yang patut menjadi cermin dari kisah ini:
Siapa yang hidup untuk dirinya sendiri, hidup kerdil dan mati hina.
Dan siapa yang hidup untuk umatnya dalam rangka mencari ridha Allah,
maka ia hidup besar dan mati agung serta mulia.
Bapak Arif Prayetna Allahuyarham mungkin telah wafat. Tetapi Masjid tetap digunakan untuk beribadah. Kelas-kelas tetap digunakan untuk mendidik generasi. Madrasah tetap menjalankan aktivitasnya. Kendaraan wakaf tetap bergerak membawa manfaat.
Dan barangkali, selama semua itu masih memberi kebaikan kepada manusia, nama beliau pun akan terus disebut dalam doa.
Ya Rabb, kami bersaksi bahwa beliau adalah orang baik, min ahlil khair.
Semoga Allah menerima seluruh amal, wakaf, sedekah, kesabaran, dan keikhlasan Bapak Arif Prayetna Allahuyarham. Dan semoga jejak yang beliau tinggalkan tidak hanya menjadi kenangan bagi mereka yang mengenalnya, tetapi juga menjadi pelajaran bagi mereka yang masih diberi kesempatan untuk hidup.
Sebab pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak yang kita miliki.
Tetapi ketika kita pergi, berapa banyak kebaikan yang masih tinggal.
---
Ditulis Oleh : Pena Umat
---
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)