KRISIS TERBESAR UMAT : KEPEMIMPINAN
Krisis Terbesar Umat : Kepemimpinan
Krisis terbesar yang melanda umat Islam hari ini, bukanlah kemiskinan yang merajalela, bukan pula kemandekan ilmu, apalagi sekadar persoalan politik praktis. tapi : Krisis kepemimpinan. Itulah akar segala bencana yang menimpa kita hari ini.
Zaman ini, kita benar-benar terperangkap dalam kelangkaan pemimpin yang jujur dan amanah. Pemimpin yang mampu membawa umat ini keluar dari kubangan kehinaan menuju martabat khairu ummah. Hari ini, tahta kepemimpinan dikuasai oleh para pemburu kepentingan sempit. Rakyat kecil tersungkur di bawah beban penderitaan, sementara para pejabat berlomba menimbun harta dari celah-celah kekuasaan.
Namun, duduklah sejenak dan renungkan: krisis ini tidak datang seperti badai yang tiba-tiba menerjang. Ia adalah penyakit sistemik yang menjalar perlahan, dan ia berakar dari satu tempat yang paling mendasar: dunia pendidikan.
Karena dari rahim pendidikkanlah lahir para pemimpin. Dan hari ini, rahim itu telah dirusak oleh tangan-tangan yang penuh agenda kepentingan. Bukan hanya di negeri kita, bahkan di negeri kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sekalipun, kerusakan di dunia pendidikan itu terjadi.
Ketika Kurikulum Dikendalikan Mata-mata Zionis
Sebuah fakta mencengangkan terungkap pada Agustus 2026. Lembaga pemikir Israel, IMPACT-se, yang telah memantau kurikulum Arab Saudi selama lebih dari dua dekade, merilis tinjauan terhadap 136 buku pelajaran Saudi. Dan apa yang mereka temukan? Negeri yang menjadi kiblat umat Islam itu secara sistematis mengubah kurikulumnya untuk "melunakkan" sikap terhadap musuh-musuhnya.
Beberapa perubahan kunci yang disebutkan :
1. Penghapusan Frasa "Umat Islam Tak Akan Pernah Menyerahkan Yerusalem"
Frasa ini dihapus dari buku pelajaran bahasa Arab kelas 11. IMPACT-se menyebutnya sebagai "penghapusan rujukan politis dan religius terhadap Yerusalem" karena dianggap menggambarkan kota suci itu sebagai medan konflik antara Muslim dan kelompok lain, khususnya Israel.
2. Penggantian Istilah "Musuh Zionis" Menjadi "Pendudukan Israel"
Pada buku sejarah kelas 11, istilah "musuh Zionis" yang sebelumnya muncul dalam konteks perang 1973 diubah menjadi "pendudukan Israel." IMPACT-se memuji perubahan ini sebagai "pengurangan tingkat permusuhan" terhadap Israel.
3. Penghapusan Nama "Palestina" dari Peta
Yang paling memilukan: peta yang sebelumnya mencantumkan seluruh wilayah sebagai "Palestina" kini dikosongkan namanya. Israel tetap tidak disebut, tetapi penghapusan nama Palestina dianggap sebagai "langkah maju" oleh lembaga Zionis ini.
4. Penghapusan Hadis dan Ayat Al-Quran
IMPACT-se "memuji" penghapusan hadis tentang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang mengunjungi seorang anak Yahudi yang kemudian masuk Islam. Lembaga ini menyebutnya sebagai "perbaikan dalam penerimaan terhadap minoritas agama".
Ironi Terbesar: Si Pengawas adalah Alat Normalisasi
Inilah titik paling kritis yang harus kita pahami bersama. IMPACT-se bukanlah lembaga netral. Organisasi ini didirikan oleh figur-figur yang terkait erat dengan negara Israel dan institusi Zionis. Mereka secara terbuka berkampanye untuk mengubah buku teks di seluruh Timur Tengah, dengan satu tujuan: normalisasi hubungan Arab-Israel.
Mereka menuntut agar buku-buku pelajaran Arab dan Palestina mengakui Israel secara eksplisit, tetapi tidak ada tuntutan yang setimpal untuk pengakuan terhadap Negara Palestina. Ini adalah perang pendidikan yang sistematis, dan kita sebagai umat Islam sedang mengalami kekalahan di medan pertempuran ini.
Saat Pendidikan Dirusak, Generasi Hilang Arah
Ketika kurikulum sekolah yang seharusnya menjadi benteng akidah dan identitas umat justru diubah di bawah tekanan musuh, maka generasi yang lahir darinya bukanlah generasi pemimpin yang teguh di jalan Allah. Mereka adalah generasi yang patuh, patuh pada narasi yang dibangun oleh mereka yang memiliki kepentingan untuk melunakkan hati umat terhadap penjajahan.
Maka, seruan ini tegas: kita membutuhkan konsep pendidikan yang kembali pada akar Islam.
Bukan sekadar konsep yang diajarkan di papan tulis, melainkan konsep yang membentuk jiwa, akhlak, dan keberanian untuk memimpin. Sebab konsep inilah yang telah terbukti melahirkan pemimpin-pemimpin terbaik sepanjang zaman.
Teladan Pemimpin dari Pendidikan Islam
Perhatikan bagaimana pendidikan Islam mencetak para raksasa sejarah:
Al-Mu'tashim, Khalifah Dinasti Abbasiyah ke-8
Ketika seorang wanita Muslimah dianiaya di wilayah perbatasan, ia tidak berdiam diri. Ia mengirimkan puluhan ribu tentara untuk menyelamatkan seorang rakyatnya yang dizalimi. Pada tahun 838 M, ia memimpin ekspedisi yang mengguncang Kekaisaran Romawi Timur, membalas kezaliman dengan kekuatan yang tak terbantahkan. Ini adalah kepemimpinan yang lahir dari pemahaman bahwa pemimpin dalam islam adalah perisai bagi yang lemah.
Nuruddin Zanky, Penguasa Dinasti Zankiyah
Ia mendirikan Bimaristan Nur al-Din di Damaskus pada tahun 1154 M, sebuah rumah sakit yang juga menjadi sekolah kedokteran pertama di dunia. Setiap pasien dirawat dengan maksimal dan gratis tanpa dipungut biaya. Ibnu Jubair, seorang musafir dari Andalusia, mencatat keagungan institusi ini. Ibnu Katsir menambahkan bahwa Bimaristan ini diwakafkan bukan khusus untuk fakir miskin, bahkan orang kayapun berobat di sini dengan gratis. Sungguh, ini adalah puncak peradaban yang dilahirkan oleh pendidikan berbasis Islam.
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu
Khalifah kedua ini, yang digelari Al-Faruq, setiap malam berpatroli mengelilingi kota Madinah. Ia memantau sendiri kondisi rakyatnya, memastikan tidak ada yang kelaparan atau kesusahan. Dan seperti yang sudah sering kita dengar kisahnya, dalam salah satu patrolinya, ia mendengar tangisan seorang bayi di tengah malam. Karena khawatir, ia mendatangi ibu bayi itu dan bertanya mengapa anaknya tak berhenti menangis. Sang ibu menjawab bahwa ia mencoba menyapih anaknya lebih awal karena Umar hanya memberi tunjangan kepada anak yang sudah disapih. Umar menangis tersedu-sedu saat subuh. Dan keesokan harinya, ia memerintahkan agar setiap anak yang lahir di Islam mendapat tunjangan, sebelum pun disapih.
Inilah yang terjadi ketika pemimpin lahir dari pendidikan yang menanamkan amanah, rahmah, dan keadilan yang membara.
Tugas Berat: Mendidik Generasi Pemimpin
Semua potret pemimpin di atas adalah buah dari konsep pendidikan Islam yang rabbani, pendidikan yang menghubungkan ilmu, iman, dan amal. Mereka tidak dilahirkan dari kurikulum yang diubah untuk menyenangkan musuh. Mereka lahir dari sistem yang mengajarkan keberanian untuk membela kebenaran, meskipun pahit.
Ini bukanlah tugas yang mudah. Di peradaban yang telah teracuni oleh sekularisme dan kapitalisme, rintangan menggunung menghadang. Namun, kewajiban kita jelas: Mari mulai mendidik generasi kita untuk menjadi pemimpin yang akan mengeluarkan umat ini dari keterpurukannya. Dengan konsep yang jelas, dengan ilmu yang kita yakini, dan dengan langkah yang tidak kompromi, kita tapaki jalan menuju pendidikan Islam yang hakiki.
Karena ingatlah: jika kita tidak mendidik generasi kita, maka generasi itu akan dididik oleh musuh kita.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Wallahu'alam
---
Ditulis Oleh : Pena Umat
---
Referensi :
- https://theprint.in/feature/saudi-arabia-textbooks-remove-anti-israel
- https://www.newarab.com/news/saudi-school-textbooks-drop
- https://khazanah.republika.co.id/berita/tjz20o320/laporan-saudi-hapus
- https://www.albawaba.net/index%2ephp/node/saudi-school-textbooks-become-softer-1635450
- https://www.outlookindia.com/international/saudi-arabia-revises-school
----
Wakaf melahirkan generasi pemimpin masa depan:
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)