Beranda Kabar Berita "Omnia In Se Omnia Habet...
"Omnia In Se Omnia Habet"
Literasi Santri

"OMNIA IN SE OMNIA HABET"

"Omnia In Se Omnia Habet"

Setiap peradaban memiliki fokusnya masing-masing. Peradaban Bani Umayyah memiliki fokus berupa menyebarkan risalah Islam secara menyeluruh ke daerah-daerah yang mereka taklukkan. Begitu juga peradaban Utsmaniyyah yang tidak jauh berbeda fokusnya dari Bani Umayyah. Berbeda halnya dengan fokus peradaban Bani Umayyah di Andalusia, di mana mereka lebih memberikan perhatian secara khusus kepada ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga menjadi fokus peradaban Bani Abbasiyah.


Bani Abbasiyah memerintah selama lima abad, masa yang panjang. Pada masa itu, betapa banyak ilmu pengetahuan yang tersebar. Kegiatan belajar-mengajar, penerjemahan, penulisan begitu marak terjadi di kala itu. Jika kita hidup di masa itu, maka tidak akan didapati kondisi, kecuali hampir di setiap sudut kota ada aktivitas yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.


Di masa itu, seluruh kalangan menaruh perhatian begitu besar pada ilmu pengetahuan. Dari kalangan masyarakat biasa, penuntut ilmu, guru-guru sampai di jajaran para penguasa. Dikarenakan perhatian yang besar pada ilmu pengetahuan, banyak fasilitas yang dibangun untuk menunjang keberlangsungan kegiatan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Madrasah, universitas, perpustakaan, baik pribadi maupun umum tersebar dalam jumlah yang banyak. Salah satu madrasah yang di mana hampir seluruh ilmu pengetahuan diajarkan di dalamnya adalah Madrasah Al-Mustanshiriyyah.


Madrasah Al-Mustanshiriyyah dibangun oleh salah satu Khalifah Bani Abbasiyah, yaitu Al-Mustanshir Billah. Khalifah ketiga puluh tujuh dari kekhalifahan Abbasiyah ini memiliki kepribadian gemar membaca dan tidak sungkan untuk mengeluarkan harta dalam jumlah yang besar demi buku dan ilmu pengetahuan.


Dibangun pada tahun 625 Hijriah dan selesai pembangunannya pada tahun 631 Hijriah. Madrasah Al-Mustanshiriyyah berlokasinya di kota Baghdad. Kegiatan belajar mengajar di dalamnya berlangsung sampai tahun 795 Hijriah, saat Baghdad diinvasi oleh Timur Lenk.

Terdapat banyak ilmu yang diajarkan di Madrasah Al-Mustanshiriyyah. Tidak hanya sebatas ilmu-ilmu agama saja, tapi juga ilmu sastra, kedokteran, dan ilmu-ilmu lain diajarkan di dalamnya. Dan uniknya, seluruh ilmu dari mazhab yang empat diajarkan di dalamnya, yang di mana saat itu jarang tempat yang bisa menyediakan macam-macam ilmu seperti itu. Banyak staf pengajar yang ahli, dan tentu saja, murid-murid yang haus akan ilmu pengetahuan berkumpul di dalamnya.


Madrasah Al-Mustanshiriyyah tidak hanya sebatas tempat untuk belajar-mengajar saja, tapi juga memiliki fasilitas-fasilitas untuk menunjang keberlangsungan aktifitas belajar mengajar seperti asrama, masjid, rumah sakit, pemandian, dan bahkan sekedar tempat pemangkasan rambut untuk siswa terdapat di dalamnya. Menariknya, semua fasilitas tersebut biayanya ditanggung oleh pemerintah.


Salah satu bangunan yang menarik perhatian di dalam kompleks Madrasah Al-Mustanshiriyyah adalah perpustakaannya, Darul Kutub Al-Mustanshiriyyah. Sebuah tempat belajar yang penting dan rujukan penting bagi para murid dan staf pengajar di Madrasah Al-Mustanshiriyyah. Dikelola oleh para petugas dan pengawas yang ahli, perpustakaan ini memiliki pamor tersendiri yang tidak banyak dimiliki perpustakaan-perpustakaan lain. Segala buku dengan macam-macam disiplin ilmu terdapat di dalamnya. Bahkan diperkirakan jumlah buku dalam Darul Kutub Al-Mustanshiriyyah mencapai 80.000 jilid. Jumlah yang begitu fantastis. Jumlah sebanyak ini berasal dari wakaf-wakaf para ulama dan tentu Khalifah Al-Mustanshir Billah itu sendiri. Aktifitas belajar-mengajar berputar di dalamnya tanpa henti, tidak hanya terbatas di ruang lingkup kelas-kelas saja.


Begitulah sekelumit tentang Madrasah dan Darul Kutub Al-Mustanshiriyyah. Salah satu tempat belajar-mengajar yang terlengkap pada masanya. Ungkapan “Omnia In Se Omnia Habet”, yang berarti “Segala Sesuatu Ada di Dalamnya” menurut bahasa latin, tidak salah untuk disandingkan dengan madrasah yang menakjubkan ini.


Khizanah Madrasah Al-Fatih, 13 Agustus 2026

 

Athabani Dyzza (Santri Madrasah Al-Fatih - Angkatan 8)


---


Bagikan kabar kebajikan ini:

Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id