Beranda Kabar Berita Penghormatan Untuk Sang...
Penghormatan Untuk Sang Literasi
Literasi Santri

PENGHORMATAN UNTUK SANG LITERASI

Penghormatan Untuk Sang Literasi

  •  2 dinar sebulan untuk seseorang yang mengambilkan buku yang tamu inginkan.
  • 30 dinar sebulan untuk seseorang yang berdedikasi menjaga buku dan memuliakan para tamu yang datang.
  • 10 dinar sebulan untuk seseorang yang mampu mengelola sistem itu semua.


(Sebagai gambaran ,1 dinar zaman itu setara dengan 11 hingga 13 juta rupiah hari ini!)


“Kisah macam apakah nih? Dongengkah?”


Dari pada kita tak berhenti terperangah dengan data diatas, maka seyogyanya kita harus segera sadar bahwa itu semua adalah kenyataan dari masa lalu Islam yang terjadi pada masa Kekhalifahan Abbasiyah yang dipimpin oleh Al-Mustanshir Billah Abi Ja’far Al-Manshur, Khalifah Abbasiyah ke-37.


Sekarang yang menjadi bahan renungan bagi kita bukanlah tentang berapa dinar yang mereka dapatkan. Melainkan pelajaran bahwa mereka adalah salah satu cerminan sebuah kualitas pemerintahan Islam pada masa lalu, dimana sebuah ilmu mendapatkan penghormatan dan peninggian setinggi-tingginya. Maka buku pun menjadi salah satu yang mendapatkan perhatian besar. Perpustakaan-perpustakaan sebagai fasilitas membaca serta sarana menimba ilmu dibuka untuk umum dengan pelayanan terbaik agar masyarakat nyaman dan juga pemberian upah yang besar untuk setiap orang yang bekerja di dalamnya.


“Mengapa demikian?”


Hal tersebut dikarenakan literasi pada masa itu dijadikan sebagai titik berat peradaban Islam. Literasi menjadi sarana informasi diantara masyarakat dari dunia luas. Oleh karena itu, kekhalifahn Islam pada masa itu memberikan pelayanan terbaik untuk setiap yang berhubungan dengan ilmu dan literasi.


Baiknya pelayanan perpustakaan juga dapat dilihat dari struktur pengelolaan perpustakaan. Contohnya Perpustakaan Al-Mustanshiriyah pada masa Khalifah Abbasiyah Al-Mustanshir Billah Abi Ja’far Al Manshur, Khalifah Abbasiyah ke 37, yang terdiri dari kepala perpustakaan yang bertanggung jawab atas berjalannya perpustakaan tersebut, lalu ada pengawas yang mengawasi setiap tamu dan membantu kepala perpustakaan, ada juga pelayan yang bertugas untuk mengambilkan setiap buku yang diinginkan oleh para tamu. Oleh karena itu, pelayan wajib mengetahui posisi setiap buku di perpustakaan.


Sekarang kita bertanya,


“Kok keren sih nyampe ada pelayannya segala?”


Ya, karena sepertilah yang sudah berulang kali disebutkan bahwa literasi menjadi titik berat peradaban. Ini juga merupakan salah satu cara pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa pada masa itu sebuah kegiatan membaca bukanlah sekadar hobi belaka, tetapi sudah menjadi rutinitas bahkan sudah menjadi lifestyle dan menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat dipisahkan.


“Kalau begitu, apabila kita ingin menghancurkan sebuah peradaban, kita tinggal hancurkan literasi peradaban tersebut?”


Benar sekali, seperti yang sudah dilakukan oleh pasukan mongol yang menghancurkan Baghdad. Mereka langsung menghancurkan jantung dari sebuah peradaban. Menghancurkan tempat dimana ayat Iqro’ dihidupkan. Menghancurkan sarana-sarana agar manusia tidak mampu berpikir.


Semoga sejarah yang sudah berlalu dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk kini dan nanti.


Sebab ketika sebuah masyarakat berhenti menghormati ilmu, yang akan hilang bukan saja sebuah buku, namun masa depannya.


----


Khizanah Madrasah Al-Fatih, 12 Agustus 2026

 

Faiz Ahmad Rasyid (Santri Angkatan 8)


---



Bagikan kabar kebajikan ini:

Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id