Beranda Kabar Berita Saat Pendidikan Kehilang...
Saat Pendidikan Kehilangan Tujuan
Renungan Peradaban

SAAT PENDIDIKAN KEHILANGAN TUJUAN

Saat Pendidikan Kehilangan Tujuan

Kita menyekolahkan anak-anak bertahun-tahun.

Mereka belajar membaca, menghafal, menghitung, menguasai teori, mengejar nilai, lalu pulang membawa selembar kertas yang membuktikan bahwa mereka telah menyelesaikan pendidikan.

Tetapi ada satu pertanyaan yang sering kali tertinggal:


Setelah semua pendidikan itu, manusia seperti apa yang berhasil kita bentuk?


Sebab pendidikan bukan sekadar tentang apa yang berhasil masuk ke dalam kepala. Jika demikian, AI (artificial intelligence) mungkin lebih berpendidikan daripada manusia.


Islam tidak pernah meremehkan ilmu. Wahyu pertama bahkan dimulai dengan perintah membaca. Tetapi ilmu dalam Islam tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti sebagai tumpukan pengetahuan. Ia seharusnya membentuk cara berpikir, memperbaiki akhlak, menghidupkan amal, lalu melahirkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.


Allah berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah, beramalah (berkaryalah) kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu (karyamu).”
QS. At-Taubah: 105


Ada ilmu yang hanya mampu dibicarakan. Ada pula ilmu yang menggerakkan tangan untuk bekerja.

Yang pertama mungkin membuat seseorang terlihat pintar. Yang kedua berpotensi mengubah keadaan.


Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya ditanyakan melalui nilai: berapa yang dihafal, berapa yang diketahui, atau seberapa panjang gelar yang berhasil ditambahkan di belakang nama.


Pertanyaannya lebih jauh dari itu.

Apa yang berubah setelah ia berilmu?

Apakah ilmunya membuatnya lebih beradab?

Apakah pengetahuannya membuatnya lebih bertanggung jawab?

Apakah pendidikannya membuatnya mampu menyelesaikan persoalan?

Dan setelah bertahun-tahun belajar, karya apa yang berhasil ia hadirkan untuk manusia?


Di sinilah pendidikan sering kehilangan tujuannya.


Kita terlalu sibuk menghasilkan manusia yang siap diuji, tetapi belum tentu siap diuji oleh kehidupan. Kita melatih mereka menjawab soal, tetapi tidak selalu melatih mereka menjawab persoalan. Kita bangga ketika generasi muda mampu mengulang teori dengan baik, tetapi lupa bertanya apakah mereka mampu menciptakan sesuatu dengannya.


Akibatnya, lahirlah generasi yang mungkin kaya wawasan, tetapi miskin karya. Tinggi pendidikan, tetapi rendah keberanian untuk mengambil peran. Banyak yang mampu menjelaskan masalah umat, tetapi sedikit yang menyiapkan diri untuk ikut memikul bebannya.


Padahal pendidikan tidak hanya bertugas menambah apa yang diketahui seseorang. Pendidikan harus membantu manusia menemukan siapa dirinya, apa potensinya, keterampilan apa yang harus dikuasainya, nilai apa yang harus dipegangnya, dan untuk siapa semua kemampuan itu akan digunakan.


Sebab manusia tidak diciptakan hanya untuk menjadi penonton di atas bumi.

Allah berfirman:

...هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا...
“Dialah yang menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian sebagai pemakmurnya.”
QS. Hud: 61


Ada tugas besar dalam keberadaan manusia: memakmurkan bumi.


Maka pendidikan seharusnya menyiapkan manusia untuk tugas itu. Bukan hanya agar ia mampu mencari tempat di dunia, tetapi agar ia mampu memberi tempat yang lebih baik bagi orang lain. Bukan hanya agar ia mendapatkan pekerjaan, tetapi agar ia juga mampu menghasilkan pekerjaan, solusi, gagasan, karya, dan perubahan.


Inilah yang membedakan pendidikan yang hanya menghasilkan lulusan dengan pendidikan yang benar-benar membentuk manusia.

Kita tentu membutuhkan para penghafal, akademisi, guru, peneliti, dan ahli. Tidak ada peradaban tanpa ilmu. Tetapi ilmu harus menemukan jalannya menuju kehidupan.


Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan.

Ilmu tanpa karya hanya berhenti sebagai wacana.

Ilmu tanpa amal akan kehilangan manfaatnya.


Dan pendidikan yang tidak melahirkan karya akan sulit membawa umat ke mana-mana.

Mungkin karena itulah kita perlu kembali kepada pertanyaan paling mendasar tentang pendidikan Islam.


Bukan sekadar: berapa banyak yang telah dipelajari?

Tetapi: manusia seperti apa yang telah berhasil dibentuk?


Sebab pada akhirnya, ijazah hanya membuktikan bahwa seseorang pernah menyelesaikan pendidikan.

Tetapi adabnya membuktikan apakah ilmu itu telah hidup dalam dirinya.

Amalnya membuktikan apakah ilmu itu telah menggerakkannya.

Dan karyanya membuktikan apakah kehadirannya telah memberi manfaat bagi dunia.


Umat ini tidak akan kembali memimpin bumi hanya dengan memperbanyak orang-orang bergelar.

Umat ini membutuhkan manusia yang berilmu sekaligus beradab. Yang memiliki wawasan sekaligus keterampilan. Yang mampu berbicara, tetapi juga mampu bekerja. Yang memahami masalah, tetapi tidak lari dari tanggung jawab untuk ikut menyelesaikannya.


Maka mungkin sudah saatnya kita mengembalikan target pendidikan ke tempat semula.

Bukan sekadar mencetak manusia yang tahu.

Tetapi membentuk manusia yang berpikir, beradab, beramal, berkarya, dan mengambil peran dalam memakmurkan bumi.


Karena pendidikan tidak seharusnya berakhir ketika seseorang menerima ijazah.

Di situlah seharusnya ia mulai membuktikan, untuk apa semua ilmu itu diberikan.


----

Ditulis Oleh : Pena Umat

----

Bagikan kabar kebajikan ini:

Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id