Beranda Kabar Berita EPS 5 (END SEASON 1) - K...
EPS 5 (END SEASON 1) - Kitab yang Hilang dari Raknya
Fiksi Historis

EPS 5 (END SEASON 1) - KITAB YANG HILANG...

EPS 5 (END SEASON 1) - Kitab yang Hilang dari Raknya

[BACA EPS 4] Klik disini


Pagi itu aula perpustakaan lebih ramai daripada biasanya.



Beberapa penuntut ilmu duduk bersila di antara rak-rak kayu. Ada yang membuka kitab kedokteran, ada yang membaca tafsir, sementara dua orang lain tampak membandingkan beberapa lembar naskah yang ditulis dengan tangan berbeda.


Ahmad berjalan mengikuti Abu Faraj.

Berbeda dengan Yusuf yang selalu membawa pena, atau Maryam yang selalu membawa benang, Abu Faraj tidak membawa apa pun.

Tangannya kosong.

Namun langkahnya mantap.

Seolah seluruh ruangan telah dikenalnya seperti halaman rumah sendiri.


"Guru Sahl berkata hari ini aku belajar bersama Tuan," ujar Ahmad.


Abu Faraj hanya mengangguk.

"Lihatlah dahulu."


Mereka berjalan melewati deretan rak yang tinggi.

Setiap rak dipenuhi manuskrip dengan ukuran yang berbeda-beda.

Sebagian dibungkus kain.

Sebagian lain telah memiliki sampul kulit yang rapi.


Ahmad baru menyadari bahwa jumlah kitab di hadapannya jauh lebih banyak daripada yang pernah ia bayangkan.

"Apakah Tuan pernah menghitung semuanya?" tanyanya.


Abu Faraj tersenyum tipis.

"Tidak."


"Lalu bagaimana Tuan tahu letaknya?"


"Tidak semua yang dikenal harus dihitung."

Jawaban itu membuat Ahmad kembali bingung.


Seorang lelaki paruh baya datang tergesa-gesa.

Ia memberi salam kepada Abu Faraj.

"Wahai Khazin..."

"Aku hendak membaca kitab tentang ilmu falak yang kupelajari tiga hari lalu."


Abu Faraj mengangguk.

Tanpa bertanya lebih jauh, ia berjalan menuju salah satu rak.

Tangannya berhenti pada sebuah ruang kosong.

Ia tidak segera berbicara.

Hanya memandang rak itu beberapa saat.


Ahmad ikut melihat.


Benar.



Ada ruang selebar satu kitab.

Tetapi kitabnya tidak ada.


Lelaki itu berkata pelan,

"Apakah sudah dipinjam orang lain?"


Abu Faraj menggeleng.

"Tidak."


"Tuan yakin?"


"Aku yakin."

Suasana mendadak hening.


Ahmad memandang ke kanan dan ke kiri.

Baginya semua rak tampak sama.

Semua kitab tampak serupa.

Kalau satu kitab berpindah tempat...

bagaimana mungkin seseorang bisa menyadarinya?


"Ahmad."

"Ya, Tuan."

"Coba lihat rak ini."


Ahmad mendekat.

"Apa yang kau lihat?"


"Banyak kitab."


"Itu saja?"


Ahmad mengangguk.


Abu Faraj mengangkat sebuah manuskrip dari rak sebelah.

Lalu menunjuk ruang kosong tadi.

"Menurutmu kitab ini cocok diletakkan di sana?"


Ahmad memperhatikan sekilas.

"Kelihatannya cocok."


Abu Faraj mengembalikan kitab itu ke tempat semula.

"Lihat sekali lagi."


Kini Ahmad mulai memperhatikan ukuran manuskrip, warna kulit sampulnya, dan susunan kitab-kitab di sekitarnya.

Masih sulit baginya menemukan perbedaannya.


Abu Faraj berkata pelan,

"Rak bukan tempat menyimpan kitab."


"Lalu?"


"Rak adalah alamatnya."


Ahmad mengernyitkan dahi.

"Alamat?"


"Kalau sebuah kitab kehilangan alamatnya..."

"...orang yang membutuhkannya akan berjalan berputar-putar meskipun kitab itu masih berada di dalam rumah ini."

Kalimat itu membuat Ahmad menoleh ke seluruh ruangan.



Tiba-tiba rak-rak kayu itu tidak lagi tampak seperti tempat menyimpan buku.

Melainkan seperti jalan-jalan di sebuah kota.

Dan setiap kitab...

memiliki rumahnya sendiri.


Abu Faraj berjalan perlahan menyusuri rak berikutnya.

Tangannya tidak menyentuh setiap kitab.

Matanya saja yang bergerak.

Sesekali ia berhenti.

Lalu melanjutkan langkah.

Ahmad mengikuti di belakang.

"Apakah Tuan sedang mencari kitab itu?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku sedang mencari kesalahan."

Ahmad belum sempat bertanya lagi ketika Abu Faraj berhenti di depan rak lain.


Beliau mengeluarkan sebuah manuskrip bersampul cokelat tua.

"Mungkin..."


gumamnya pelan.

"...inilah yang membuat satu rak menjadi kosong."


Ahmad memandang manuskrip itu dengan heran.

Ia belum mengerti apa hubungan kitab yang berada di tangannya dengan ruang kosong yang mereka tinggalkan beberapa saat lalu.

Namun dari raut wajah Abu Faraj, ia tahu satu hal.

Di Baitul Hikmah...

sebuah kitab tidak pernah benar-benar hilang.


Kadang...

ia hanya sedang berada di tempat yang bukan miliknya.


Abu Faraj meletakkan manuskrip yang dipegangnya di atas meja panjang.

Ia tidak segera membukanya.


Sebaliknya, ia memandang rak-rak di sekeliling ruangan.

Ahmad ikut memandang ke arah yang sama.

Baginya semua rak terlihat serupa.

Semua kitab tampak sama pentingnya.

"Ahmad."


"Ya, Tuan?"


"Kalau engkau kehilangan seorang sahabat di pasar Baghdad, ke mana engkau akan mencarinya?"


Ahmad berpikir sejenak.

"Ke tempat yang biasa ia datangi."


Abu Faraj mengangguk.

"Bagus."


"Lalu kalau kitab ini tidak berada di raknya..."

"...menurutmu ke mana ia mungkin pergi?"


Ahmad hampir tertawa.

"Kitab tidak bisa berjalan."


"Tidak."


"Tetapi manusia bisa membawanya."


Barulah Ahmad mengerti maksud pertanyaan itu.

Abu Faraj membuka manuskrip yang tadi diambilnya.


Di halaman pertama terdapat tulisan kecil yang dibuat oleh salah seorang penyalin.

Beliau memperhatikannya beberapa saat.

Lalu menutup kembali kitab itu.

"Ini bukan kitab yang kita cari."


"Tuan hanya melihat satu halaman."


"Itu sudah cukup."


Ahmad semakin heran.

"Tuan mengenal semua kitab?"


Abu Faraj tersenyum.

"Tidak."


"Aku mengenal keluarganya."


"Keluarga?"


"Kitab-kitab yang membahas ilmu yang sama biasanya saling berdekatan."

Ahmad memandang rak-rak tinggi itu.


Jadi...

yang disusun bukan sekadar ukuran kitab.

Bukan pula warna sampulnya.

Melainkan hubungan antara ilmu yang ada di dalamnya.


Tiba-tiba perpustakaan itu terasa jauh lebih hidup.

Seolah setiap kitab mempunyai tetangga.


Mereka berjalan menuju rak lain.

Di sana seorang penuntut ilmu sedang membaca dengan tekun.

Di sampingnya terdapat tiga manuskrip yang terbuka.


Abu Faraj memberi salam.

"Apakah Tuan membutuhkan bantuan?"


Lelaki itu mengangkat wajah.

"Terima kasih. Aku sedang membandingkan beberapa pendapat."



Abu Faraj melirik manuskrip-manuskrip di atas meja.

Matanya berhenti pada satu kitab.

"Itu bukan kitab yang sedang Tuan baca kemarin."


Lelaki itu tersenyum.

"Benar."


"Aku mengambilnya dari rak sebelah."


"Apakah sudah selesai membacanya?"


"Sudah."


"Kalau begitu..."

Abu Faraj mengangkat kitab itu perlahan.

"...izinkan aku mengembalikannya."


Lelaki itu mengangguk tanpa merasa tersinggung.


Bagi para penuntut ilmu di Baitul Hikmah, mengembalikan kitab kepada penjaga perpustakaan adalah hal yang biasa.

Ketika mereka berjalan kembali, Ahmad bertanya,

"Tuan tadi tahu kitab itu bukan miliknya?"


Abu Faraj tersenyum kecil.

"Bukan."

"Aku tahu rak itu tidak pernah menyimpan kitab tersebut."


Ahmad memandangi kitab di tangan Abu Faraj.

"Apakah satu kitab yang salah tempat benar-benar menjadi masalah?"


Abu Faraj berhenti melangkah.

Ia menyerahkan kitab itu kepada Ahmad.

"Cobalah simpan."


Ahmad mendekati rak pertama.

"Tidak."


"Rak berikutnya."

Ahmad berpindah.


"Masih belum."


Rak ketiga.

Rak keempat.

Rak kelima.


Semakin lama Ahmad semakin bingung.

Setiap kali ia hendak meletakkan kitab itu, Abu Faraj menggeleng pelan.

Akhirnya Ahmad menyerah.

"Aku tidak tahu tempatnya."


Abu Faraj mengambil kembali kitab itu.

Dengan tenang ia berjalan beberapa langkah ke arah rak yang lain.

Di sanalah kitab itu diletakkan.

Pas.


Di antara dua manuskrip yang ukurannya hampir sama.

"Bagaimana Tuan bisa menemukannya secepat itu?"


Abu Faraj mengusap perlahan punggung sampul kitab tersebut.

"Karena aku tidak menghafal rak."


"Lalu?"


"Aku menghafal hubungan di antara kitab-kitab."

Jawaban itu membuat Ahmad terdiam.


Sore mulai mendekat.

Sinar matahari bergeser perlahan di lantai aula.

Seorang pelayan datang membawa beberapa manuskrip yang baru selesai dijilid oleh Maryam.

"Ini dari ruang penjilidan."


Abu Faraj menerimanya dengan kedua tangan.

Ia tidak langsung menyimpannya.

Satu per satu manuskrip itu dibuka.


Judulnya dibaca.

Keadaannya diperiksa.

Baru setelah itu ia mengangguk puas.


Ahmad memperhatikan semua itu.

"Tuan memeriksa lagi?"


"Tentu."


"Bukankah Maryam sudah memeriksanya?"


"Maryam memeriksa jahitannya."


"Aku memeriksa tempat pulangnya."


Ahmad kembali terdiam.

Semalam Yusuf menjaga huruf.

Pagi tadi Maryam menjaga usia kitab.

Kini Abu Faraj menjaga agar kitab itu dapat ditemukan kembali.



Ternyata...

sebuah kitab belum selesai menjalankan tugasnya hanya karena telah ditulis dan dijilid.


Ia masih harus menunggu seseorang yang mencarinya.

Ketika matahari mulai condong ke barat, Abu Faraj berhenti di depan rak yang pagi tadi kosong.


Ia mengangkat manuskrip yang sejak tadi mereka cari.

Lalu meletakkannya kembali di tempatnya.

Ruang kosong itu pun terisi.


Abu Faraj menghela napas pelan.

"Alhamdulillah..."

katanya.


"Sebuah kitab telah pulang."


Ahmad memandang rak itu dengan senyum kecil.


Baru hari itu ia mengerti.

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan kitab.

Perpustakaan adalah tempat yang memastikan setiap ilmu dapat ditemukan kembali oleh orang yang membutuhkannya.



Senja mulai turun di atas Baghdad.

Cahaya keemasan masuk melalui jendela-jendela tinggi Baitul Hikmah, memanjang di antara rak-rak kayu yang dipenuhi manuskrip.

Para penuntut ilmu mulai menutup kitab mereka.

Sebagian mengembalikannya kepada Abu Faraj.

Sebagian lagi menunggu giliran.

Tidak seorang pun meletakkan kitab kembali ke rak dengan kemauannya sendiri.


Ahmad baru menyadari kebiasaan itu.

"Tuan..."


Abu Faraj menoleh.


"Mengapa mereka menyerahkan kitab kepada Tuan? Bukankah mereka bisa mengembalikannya sendiri?"


Abu Faraj menerima sebuah manuskrip dari seorang pembaca.

Ia memeriksa sampulnya sejenak sebelum menjawab.

"Karena mereka datang untuk mencari ilmu."

"Bukan untuk menghafal letak setiap kitab."


Ahmad mengangguk pelan.

Jawaban itu terdengar sederhana.

Namun semakin dipikirkannya, semakin masuk akal.

Satu demi satu manuskrip kembali ke meja Abu Faraj.


Beliau tidak tergesa-gesa.

Ada yang langsung dibawa ke rak.

Ada yang diletakkan terpisah.

Ada pula yang dibuka sebentar sebelum disimpan.

Ahmad memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu.


"Ada yang salah, Tuan?"

Abu Faraj menunjukkan sebuah manuskrip.


"Lihat bagian tepinya."

Ahmad mendekat.

Sudut beberapa halaman tampak mulai terlipat.

"Besok pagi kitab ini akan kubawa kepada Maryam."


"Untuk dijahit lagi?"


"Bukan."

"Untuk dirapikan sebelum kerusakannya bertambah."


Ahmad tersenyum.



Ia mulai melihat hubungan yang selama ini tidak disadarinya.

Yusuf menjaga isi.

Maryam menjaga bentuk.

Abu Faraj menjaga perjalanan.

Mereka bekerja di ruangan yang berbeda.

Namun sesungguhnya sedang menyelesaikan pekerjaan yang sama.

Menjaga ilmu.


Tak lama kemudian, Sahl bin Harun memasuki aula.

Beliau memandang Abu Faraj yang masih sibuk menerima kitab-kitab yang dikembalikan.

"Bagaimana hari pertamamu, Ahmad?"


Ahmad menoleh dengan wajah berbinar.

"Guru..."

"Baru hari ini aku mengerti mengapa setiap kitab harus kembali ke tempatnya."


Sahl tersenyum.

"Lalu?"


"Karena kalau tidak..."

"...orang bisa mengira ilmunya hilang."


Sahl mengangguk.

"Dan apakah ilmunya benar-benar hilang?"


Ahmad menggeleng.

"Tidak."


"Hanya sulit ditemukan."


"Persis."

Sahl mendekat ke salah satu rak.


Beliau meletakkan telapak tangannya di atas kayu yang telah mengilap karena sering disentuh.

"Begitulah ilmu."

"Ia tidak selalu hilang karena musnah."

"Kadang..."

"...ia hilang karena manusia tidak lagi tahu ke mana harus mencarinya."

Kalimat itu membuat Ahmad terdiam cukup lama.


Ruangan mulai sepi.

Hanya terdengar bunyi pelan ketika Abu Faraj menyelipkan manuskrip terakhir ke raknya.

Beliau melangkah mundur beberapa langkah.

Menatap rak itu.


Lalu tersenyum tipis.

"Sudah."


Ahmad ikut melihat.

Baginya rak itu tidak tampak berbeda.


Tetapi bagi Abu Faraj...

setiap kitab telah kembali ke tempat yang semestinya.

Sebelum mereka meninggalkan aula, Abu Faraj mengunci pintu perpustakaan.


Ahmad bertanya,

"Tuan..."

"Apakah pekerjaan menjaga perpustakaan sudah selesai?"


Abu Faraj menggeleng.

"Pekerjaan ini selesai setiap sore."

"Lalu dimulai lagi setiap pagi."


"Mengapa?"


"Karena setiap hari ada orang yang datang mencari jawaban."


Beliau memandang bangunan Baitul Hikmah yang mulai diterangi cahaya lampu minyak.

"Dan tugas kita..."

"...adalah memastikan jawaban itu masih bisa ditemukan."

Ahmad menoleh ke arah rak-rak yang kini telah sunyi.


Kemarin ia mengira perpustakaan hanyalah ruangan penuh kitab.

Hari ini ia tahu bahwa perpustakaan adalah sebuah janji.

Janji bahwa ilmu yang diwariskan oleh para ulama tidak akan dibiarkan tersesat di antara rak-rak yang penuh.

Ia akan tetap dapat ditemukan oleh siapa pun yang mencarinya dengan sungguh-sungguh.


Saat mereka melangkah keluar, Sahl memanggil Ahmad.

"Besok..."


Ahmad menoleh.

"...engkau akan masuk ke ruangan yang paling ramai di Baitul Hikmah."

"Ruangan apa itu, Guru?"


Sahl tersenyum.

"Ruangan tempat satu bahasa bertemu dengan bahasa yang lain."

"Di sanalah sebuah ilmu memulai kehidupan barunya."


Ahmad memandang wajah gurunya dengan penuh rasa ingin tahu.

Ia belum pernah memasuki ruangan itu.


Namun ia dapat mendengar samar-samar suara beberapa orang yang sedang berdiskusi dalam bahasa yang tidak dikenalnya.


Esok hari...


ia akan menyaksikan bagaimana sebuah kitab tidak hanya disalin atau disimpan, tetapi diberi kesempatan untuk berbicara kepada dunia yang baru.


"Ilmu tidak cukup ditulis, dirawat, dan disimpan. Ia juga harus dapat ditemukan ketika seseorang mencarinya."


----


Ditulis Oleh : Pena Umat


---


PENGUMUMAN :

Kepada penggemar Serial Cerpen Fiksi Historis, mohon maaf sebesar-besarnya, untuk saat ini Pena Umat akan Hiatus sampai waktu yang tidak ditentukan, insyaAllah, ketika Serial Cerpen Fiksi Historis - Baitul Hikmah kembali berlanjut, kami akan segera menginformasikannya.


Syukron Jazakumullahu Khairan Katsiran atas kebersamaannya selama ini.


Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id