Beranda Kabar Berita Eps 4 - Benang Yang Menj...
Eps 4 - Benang Yang Menjaga Usia
Fiksi Historis

EPS 4 - BENANG YANG MENJAGA USIA

Eps 4 - Benang Yang Menjaga Usia

[BACA EPS 3] Klik disini


Pagi di Baitul Hikmah selalu datang lebih tenang daripada hiruk-pikuk pasar Baghdad.


Sinar matahari menembus kisi-kisi jendela, jatuh memanjang di atas lantai batu. Para pelayan mulai membuka daun-daun jendela agar udara segar memenuhi ruangan. Di kejauhan terdengar beberapa penuntut ilmu telah duduk membaca, sementara penjaga perpustakaan berjalan perlahan memeriksa rak demi rak.


Ahmad masih memikirkan peristiwa semalam.

Ia masih teringat bagaimana Yusuf rela menulis ulang satu halaman hanya karena satu huruf.

Baginya, itu terasa berlebihan.

Namun kini ia mulai memahami bahwa ilmu memang menuntut kesabaran.


Langkahnya berhenti di depan sebuah ruangan yang belum pernah ia masuki.

Pintu kayunya terbuka setengah.

Dari dalam tercium aroma yang berbeda.

Bukan bau tinta.

Bukan pula bau kertas.

Ada aroma kulit yang hangat, bercampur dengan wangi kayu dan sesuatu yang mengingatkannya pada lem yang baru mengering.

Ahmad mengintip ke dalam.


Ruangan itu jauh lebih sunyi daripada ruang penyalinan.

Di atas meja panjang tersusun gulungan benang linen, lembaran kulit yang telah disamak, papan-papan kayu tipis, gunting kecil, jarum-jarum besar, dan beberapa kitab dengan sampul yang telah dilepaskan.



Di dekat jendela, Maryam sedang duduk membungkuk.

Tangannya tidak bergerak.

Ia hanya memandangi sebuah kitab tua yang terbuka di hadapannya.


Ahmad menunggu.

Satu tarikan napas.

Dua tarikan napas.


Maryam tetap diam.


Akhirnya Ahmad memberanikan diri.

"Apakah kitab itu akan dijilid hari ini?"


Maryam mengangkat wajah dan tersenyum.

"Belum."


Ahmad melirik meja kerja yang telah dipenuhi alat.

"Tapi... semua alatnya sudah siap."


"Alat boleh siap."

Maryam kembali memandang kitab itu.

"Tetapi aku belum."


Jawaban itu membuat Ahmad semakin bingung.

Bukankah pekerjaan tinggal dimulai?

Mengapa harus menunggu?


Ia melangkah mendekat.

Barulah ia melihat keadaan kitab itu.

Kulit sampulnya retak-retak dimakan usia.


Benang jahitannya telah putus di beberapa bagian.

Beberapa lembar hampir terlepas dari lipatannya.

Sudut-sudut halaman telah menguning.

Namun tulisan di dalamnya masih tampak jelas.


Ahmad mengusap pelan salah satu sudut sampul yang terkelupas.

"Kasihan sekali..."

gumamnya.


Maryam memandang kitab itu dengan tatapan berbeda.

"Tidak."


Ahmad menoleh.


Maryam menggeleng pelan.

"Jangan kasihan."


"Lalu?"


"Hormatilah."


Ahmad terdiam.


Maryam mengangkat kitab itu dengan kedua tangannya.

"Kitab ini sudah melayani banyak pembaca sebelum kita lahir."

Jemarinya menyentuh bekas lipatan pada sampul kulit.

"Lihat bagian ini."


Ahmad memperhatikan.

Kulitnya tampak lebih halus daripada bagian lain.

"Kenapa berbeda?"


"Karena sering disentuh."

Maryam lalu membuka beberapa halaman.

Di tepi salah satu halaman tampak bekas jari yang membuat warna kertas sedikit lebih gelap.

"Dan ini?"

"Bekas orang-orang yang membacanya."


Ahmad menatap lama.

Baru kali itu ia menyadari bahwa sebuah kitab juga menyimpan jejak perjalanan.

Bukan hanya isi yang ditulis penulisnya.

Tetapi juga jejak tangan mereka yang mencintai ilmu.


Maryam menutup kitab itu perlahan.

"Kalau aku tergesa-gesa memperbaikinya..."

"...aku bisa menghilangkan jejak itu."

Ruangan kembali sunyi.


Tak lama kemudian Sahl memasuki ruangan.

Beliau memperhatikan Ahmad yang masih memandangi kitab tua itu.

"Apa yang kau lihat, Ahmad?"


Ahmad menjawab pelan,

"Kitab yang rusak, Guru."


Sahl tidak langsung menanggapi.

Beliau justru memandang Maryam.


Maryam tersenyum kecil.

Lalu berkata,

"Bukan, Ahmad."

"Ini bukan kitab yang rusak."

Ia mengusap sampul tua itu dengan telapak tangannya.

"Ini kitab yang telah menempuh perjalanan panjang."


Ahmad kembali memandang manuskrip itu.

Entah mengapa...

Kini retakan pada sampulnya tidak lagi tampak seperti kerusakan.

Melainkan seperti keriput di wajah seorang tua yang menyimpan banyak cerita.



Maryam belum juga mengambil jarumnya.

Ia duduk di depan meja kerja, sementara kitab tua itu tetap terbuka di hadapannya.


Ahmad mulai gelisah.

"Tadi Tuan Yusuf langsung menulis ketika duduk di mejanya," katanya.

"Mengapa Kak Maryam belum mulai bekerja?"


Maryam tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari kitab itu.

"Karena pekerjaanku dimulai sebelum jarum menyentuh benang."

Ia mengangkat kitab itu perlahan dan meletakkannya di atas selembar kain bersih.

"Datanglah lebih dekat."


Ahmad berdiri di sampingnya.


"Menurutmu, bagian mana yang paling rusak?"


Ahmad menunjuk sampul yang retak.

"Ini."


Maryam menggeleng.

"Lihat lagi."


Ahmad mencoba lebih teliti. Kali ini ia melihat beberapa jahitan yang putus.

"Mungkin... benangnya?"


Maryam masih belum mengangguk.

Ia membuka kitab itu beberapa lembar.

"Lihat lipatan di tengah."


Ahmad membungkuk.

Barulah ia melihat beberapa lembar tidak lagi menyatu dengan kuat. Ketika halaman dibuka, sebagian bergerak lebih longgar daripada yang lain.

"Oh..."


Maryam tersenyum.

"Kalau aku hanya memperbaiki sampulnya, kitab ini tetap akan rusak saat dibaca."


Ahmad mengangguk pelan.

Ia mulai mengerti bahwa kerusakan yang tampak belum tentu kerusakan yang paling berbahaya.


Maryam mengambil sehelai kuas kecil.

Dengan sangat hati-hati ia menyapukan debu halus dari tepi halaman.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Setiap gerakannya seolah telah diukur.


Ahmad memperhatikan butiran debu yang beterbangan terkena cahaya matahari.

"Kak Maryam..."

"Ya?"

"Apakah debu juga harus dibersihkan satu per satu?"


Maryam mengangguk.

"Debu yang dibiarkan terlalu lama akan mengundang kelembapan. Kelembapan bisa membuat kertas cepat rusak."


Ahmad terdiam.

Hal-hal yang selama ini dianggapnya sepele, ternyata dapat menentukan panjang pendek umur sebuah kitab.


Setelah debu dibersihkan, Maryam memeriksa jahitan lama.

Ia tidak segera mencabut benang yang telah putus.

Sebaliknya, ia mengamatinya cukup lama.


"Mengapa tidak langsung diganti?" tanya Ahmad.


"Karena aku ingin tahu bagaimana kitab ini dibuat."


Ahmad tampak bingung.


Maryam mengangkat sepotong benang tua.

"Setiap penjilid meninggalkan caranya sendiri."


"Cara?"


"Jarak jahitan."

"Letak simpul."

"Arah benang."

Ia tersenyum kecil.

"Kalau aku tidak memahami pekerjaan orang sebelumku, aku bisa merusak apa yang sudah ia kerjakan dengan baik."


Ahmad memandang benang yang sudah kusam itu dengan rasa hormat yang baru.

Benang itu ternyata bukan sekadar benang.

Ia adalah jejak tangan seseorang yang mungkin telah lama tiada.



Tak lama kemudian, Sahl masuk ke ruangan sambil membawa sebuah manuskrip lain.

Beliau meletakkannya di atas meja.

"Ini juga membutuhkan perhatianmu, Maryam."


Maryam membuka manuskrip itu sekilas.

Lalu menggeleng pelan.

"Yang ini bisa menunggu."


Sahl mengangkat alis.

"Mengapa?"


Maryam menunjuk kitab tua di hadapannya.

"Yang ini lebih tua."

"Dan lebih sering dibaca."

"Kalau terlambat dirawat, kerusakannya akan bertambah."


Sahl mengangguk puas.

"Engkau memilih berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan siapa yang membawa kitab."


Maryam hanya tersenyum.


Ahmad memperhatikan percakapan itu.

Ia baru sadar bahwa menjaga ilmu juga berarti memilih dengan adil, bukan sekadar bekerja dengan rajin.


Maryam akhirnya mengambil gunting kecil.

Namun yang dipotong bukan kulit.

Bukan pula kertas.

Melainkan sisa benang yang telah lapuk.

Setelah itu ia berhenti lagi.


Ahmad hampir tertawa kecil.

"Kak Maryam berhenti lagi."


Maryam ikut tersenyum.

"Pernahkah kau melihat seorang tabib mengobati pasien tanpa memeriksanya lebih dahulu?"


"Tidak."


"Begitu juga dengan kitab."


Ia memandang Ahmad.

"Setiap kitab memiliki lukanya sendiri."

"Dan setiap luka membutuhkan cara yang berbeda."


Kalimat itu terus terngiang di benak Ahmad.

Ia menunduk memandangi manuskrip tua di atas meja.


Semalam ia belajar bahwa satu huruf harus dijaga agar ilmu tidak berubah.

Hari ini ia belajar bahwa satu jahitan harus dipikirkan agar ilmu tetap bertahan.


Ternyata...

menjaga ilmu tidak hanya dilakukan dengan pena.


Kadang-kadang...

ia dijaga dengan seutas benang.


Di luar jendela, cahaya matahari mulai memenuhi halaman Baitul Hikmah.

Maryam mengambil jarum besarnya.


Untuk pertama kalinya sejak pagi, ujung jarum itu menyentuh benang linen.

Ahmad menahan napas.


Ia tahu...

pekerjaan yang sesungguhnya baru akan dimulai.



Jarum itu akhirnya bergerak.

Perlahan.

Ujungnya menembus lubang jahitan lama.

Bukan membuat lubang baru.


Maryam sengaja mengikuti jejak yang telah dibuat oleh penjilid sebelum dirinya.


Ahmad memperhatikan dengan saksama.

"Kenapa tidak membuat lubang yang baru saja?" tanyanya.


Maryam tetap bekerja.

"Karena kitab ini sudah cukup sering terluka."

Jarumnya kembali menembus lipatan berikutnya.

"Kalau aku membuat lubang baru..."

"...aku hanya akan menambah luka yang tidak perlu."


Ahmad menatap lubang-lubang kecil di tepi lipatan halaman.

Kini ia melihatnya bukan sebagai bekas kerusakan.

Melainkan bekas perjalanan panjang.


Benang linen ditarik perlahan.

Tidak terlalu kencang.

Tidak pula terlalu longgar.

Maryam berhenti sejenak.

Ia menyentuh lipatan halaman dengan ujung jarinya.

"Lihat."


Ahmad mendekat.

"Kalau terlalu kencang..."


Maryam menarik benang sedikit.

Lipatan halaman ikut tertarik.

"...kertas akan cepat robek."

Ia kemudian mengendurkannya sedikit.

"Kalau terlalu longgar..."

Halaman itu bergoyang.

"...kitab akan mudah lepas."


Ahmad mengangguk pelan.

Ternyata bahkan seutas benang pun harus mengenal batas.



Sahl datang menghampiri.

Beliau berdiri cukup lama tanpa berbicara.

Sesekali hanya memperhatikan gerakan tangan Maryam.

Setelah beberapa saat beliau berkata,

"Masih memakai lubang jahitan yang lama."


Maryam mengangguk.

"Masih kuat."


"Bagus."


Tidak ada pujian yang berlebihan.

Hanya satu kata.


Tetapi Ahmad melihat senyum kecil di wajah Maryam.

Seolah satu kata itu lebih berharga daripada pujian yang panjang.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki di depan ruangan.



Abu Faraj masuk sambil membawa sebuah daftar kecil.

"Apakah kitab itu sudah selesai?"


"Sebentar lagi."

Abu Faraj mengangguk.


"Beberapa penuntut ilmu sudah menanyakannya."


Ahmad terkejut.

"Kitab setua ini masih sering dibaca?"


Abu Faraj tersenyum.

"Justru karena sering dibaca, ia menjadi seperti ini."


Ia mengangkat kitab itu setelah Maryam mempersilahkannya.

Dengan kedua tangannya.

Penuh kehati-hatian.

"Orang sering mengira rak perpustakaan membuat kitab bertahan lama."


Beliau menggeleng pelan.

"Bukan."

"Yang membuat kitab panjang umur adalah tangan-tangan yang merawatnya."


Maryam menundukkan kepala.

Baginya...

kata-kata itu bukan pujian.

Melainkan pengingat bahwa pekerjaannya belum pernah benar-benar selesai.

Beberapa saat kemudian jahitan terakhir pun selesai.


Maryam tidak segera menutup kitab itu.

Ia membuka beberapa halaman.

Menguji apakah lembarannya bergerak dengan baik.


Membalik satu demi satu.

Tidak ada halaman yang tersangkut.

Tidak ada jahitan yang terlalu kaku.

Barulah ia menghela napas lega.

"Alhamdulillah."


Ahmad tersenyum.

"Kini kitab ini seperti baru."


Maryam memandang kitab itu lama sekali.

Lalu menggeleng.

"Tidak."


Ahmad kembali bingung.

"Bukankah sudah diperbaiki?"


Maryam mengusap perlahan sampul kulit yang masih menyisakan retakan halus.

"Aku tidak membuatnya menjadi baru."

"Aku hanya membuatnya siap melanjutkan perjalanannya."


Kalimat itu membuat Ahmad terdiam.


Ia sadar...

tidak semua pekerjaan bertujuan menghapus bekas waktu.

Ada pekerjaan yang justru bertujuan agar waktu tetap dapat dibaca.


Abu Faraj menerima kitab itu.

Beliau tidak langsung membawanya ke rak.


Ia membuka halaman pertama.

Kemudian halaman terakhir.

Lalu menutupnya kembali dengan hati-hati.

"Besok pagi," katanya pelan, "kitab ini akan kembali ke tempatnya."


Ahmad bertanya,

"Apakah tempat setiap kitab sudah ditentukan?"


Abu Faraj tersenyum.

"Kalau tidak, bagaimana orang akan menemukannya?"


Ahmad menoleh kepada rak-rak tinggi yang memenuhi aula perpustakaan.

Baru kali itu ia menyadari bahwa menyimpan kitab ternyata tidak semudah meletakkannya di rak yang kosong.


Setiap kitab harus kembali ke tempat yang benar.

Kalau tidak...

ilmu bisa hilang, bukan karena musnah, tetapi karena tak seorang pun tahu di mana mencarinya.


Sahl yang sejak tadi diam akhirnya berkata,

"Besok, Ahmad..."

"...aku ingin kau membantu Abu Faraj."


Ahmad menoleh dengan mata berbinar.

"Di perpustakaan, Guru?"


Sahl mengangguk.

"Sudah waktunya kau belajar bahwa menjaga ilmu bukan hanya dengan pena atau benang."

"Kadang..."

"...dengan mengetahui di mana ia harus berada."


Ahmad mengangguk mantap.

Di tangannya, kitab tua itu memang telah selesai dijahit.


Namun di hatinya...

baru saja terbuka sebuah pelajaran baru.

Pelajaran bahwa sebuah kitab tidak hidup karena sampulnya indah.

Ia hidup karena selalu ada orang-orang yang, dalam diam, menjaga agar ia tetap dapat dibaca oleh generasi berikutnya.



"Merawat warisan bukan berarti mengembalikannya seperti semula, melainkan menjaganya agar tetap dapat melanjutkan perjalanan menebarkan manfaatnya."



Bersambung ...


-----


Ditulis Oleh : Pena Umat


----


Mari hadirkan kembali kebesaran Baitul Hikmah, dengan berwakaf untuk Baitul Hikmah Nusantara di Madrasah Al-Fatih, klik gambar dibawah ini


Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id