EPS 3 - KITAB YANG DITUNGGU ESOK PAGI
Eps 3 - Kitab yang Ditunggu Esok Pagi
Suara gesekan pena masih terdengar ketika langit Baghdad berubah jingga.
Satu demi satu para pekerja meninggalkan ruang penyalinan. Ada yang mencuci tinta di tempayan kecil, ada yang menutup kotak penanya dengan hati-hati, lalu mengucapkan salam sebelum melangkah keluar. Suara sandal mereka perlahan menghilang di lorong-lorong Baitul Hikmah.
Namun di sudut ruangan, satu pena masih terus bergerak.
Goresannya tenang.
Teratur.
Seolah waktu belum pernah mendekati senja.
Ahmad masih berdiri memandang lelaki itu. Cahaya matahari yang masuk dari jendela kini tak lagi cukup menerangi meja kerjanya. Seorang pelayan datang membawa lampu minyak, menyalakannya tanpa sepatah kata, lalu meletakkannya di sisi naskah yang sedang disalin.
Lelaki itu hanya menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih.
Tangannya tak berhenti menulis.
Ahmad menoleh kepada Sahl.
"Guru..."
Sahl menatapnya.
"Mengapa Tuan Yusuf belum pulang?"
Sahl ikut memandang ke arah penyalin itu.
Beberapa saat ia tidak menjawab.
Seolah membiarkan Ahmad menemukan sendiri jawabannya.
Lalu ia berkata pelan,
"Besok pagi... ada seseorang yang datang untuk belajar."
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan lain.
Ahmad justru semakin bingung.
Apa hubungan seorang tamu dengan lelaki yang sedang menyalin kitab?
"Ikutlah."
Sahl melangkah pelan menyusuri lorong.
Ahmad mengikutinya.
Mereka melewati rak-rak kayu yang dipenuhi manuskrip. Seorang penjaga perpustakaan sedang mencatat kitab-kitab yang baru dikembalikan. Ia membuka setiap jilid, memeriksa nomor dan tanda kecil pada halaman pertama sebelum mengembalikannya ke tempat semula.
Di sisi lain ruangan, dua orang warraq sibuk meratakan lembaran-lembaran kertas yang baru selesai dipotong. Mereka menumpuknya berdasarkan ukuran, lalu menutupnya dengan kain agar tidak terkena debu.
Tak jauh dari sana, seorang pelayan mengangkat sebuah peti berisi tinta yang baru datang.
Tidak ada seorang pun yang berbicara keras.
Setiap orang mengetahui pekerjaannya.
Dan setiap pekerjaan seolah menyambung pekerjaan orang lain.
Ahmad memperhatikan semuanya dengan takjub.
Baru hari itu ia menyadari bahwa Baitul Hikmah bukan sekadar ruangan besar yang dipenuhi kitab.
Ia adalah rumah yang hidup.
Rumah yang bekerja, bahkan ketika pengunjung mulai pulang.
Mereka kembali ke meja Yusuf.
Kini ruangan hampir kosong.
Suara pena itu terdengar lebih jelas.
Srak... srak... srak...
Yusuf baru mengangkat wajahnya ketika melihat Sahl mendekat.
"Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Sahl.
"Alhamdulillah."
"Sudah sampai halaman terakhir?"
Yusuf mengangguk.
"Tinggal sedikit."
Ahmad memperhatikan lembaran-lembaran yang telah ditulis rapi. Tulisan hitam memenuhi halaman dengan baris-baris yang nyaris sama panjang.
Ia tidak mengerti bagaimana seseorang mampu menulis seindah itu selama berjam-jam.
Dengan ragu ia bertanya,
"Tuan... apakah kitab ini akan dijual besok?"
Yusuf tersenyum tipis.
"Tidak."
"Lalu?"
"Kitab ini diminta oleh seorang penuntut ilmu."
"Apakah Tuan mengenalnya?"
Yusuf menggeleng.
"Belum pernah bertemu."
"Kalau begitu... mengapa Tuan bekerja sampai malam?"
Yusuf meletakkan penanya sesaat.
Matanya memandang ke arah lampu minyak yang mulai bergoyang tertiup angin.
"Dulu," katanya perlahan,
"aku pernah berjalan berhari-hari hanya untuk mendapatkan satu kitab."
Ahmad terdiam.
"Aku masih ingat rasanya."
"Lelah?"
Yusuf mengangguk.
"Lelah... dan berharap jangan sampai perjalanan itu sia-sia."
Ia kembali menatap naskah di hadapannya.
"Aku tidak mengenal orang yang akan datang besok."
"Tetapi aku mengenal lelahnya."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Ahmad.
Untuk pertama kalinya ia mengerti.
Yusuf tidak sedang mengejar pekerjaan.
Ia sedang menghormati perjalanan seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Beberapa saat kemudian, ruangan kembali sunyi.
Hanya suara pena.
Lampu minyak mulai mengecil.
Yusuf menyelesaikan satu baris terakhir, lalu mengembuskan napas panjang.
"Selesai..."
gumam Ahmad pelan.
Namun Yusuf tidak menutup kitab itu.
Ia justru kembali ke halaman pertama.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Jarinya mengikuti setiap baris.
Matanya membaca ulang satu demi satu huruf.
Ahmad mengerutkan dahi. dalam pikirannya ia bertanya,
Bukankah kitab itu sudah selesai?, Mengapa dibaca lagi? ...
namun sebelum ia bertanya, tiba-tiba pena Yusuf berhenti.
Wajah lelaki itu berubah.
Ia membuka naskah induk yang berada di sampingnya.
Lalu membandingkannya dengan salinan yang baru selesai.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ruangan kembali sunyi.
Kali ini bukan karena semua orang telah pulang.
Melainkan karena ada sesuatu yang tidak beres.
Lampu minyak bergoyang pelan ketika Yusuf menutup naskah induknya.
Tidak.
Ia tidak benar-benar menutupnya.
Tangannya kembali membuka lembaran yang sama.
Matanya bergerak dari satu halaman ke halaman lain, lalu kembali lagi ke salinan yang baru saja ia selesaikan.
Ahmad memperhatikan dengan bingung.
"Tuan Yusuf..."
Lelaki itu tidak menjawab.
Ia mengangkat telunjuknya, meminta Ahmad menunggu.
Beberapa saat kemudian ia menarik napas panjang.
"Ada satu kata."
Ahmad mendekat.
"Di mana?"
Yusuf menggeser kedua naskah hingga sejajar.
"Lihat baik-baik."
Ahmad menatap dua baris tulisan yang tampak sama persis di matanya.
Huruf-hurufnya serupa.
Jarak antarbarisnya sama.
Tinta hitamnya pun tak berbeda.
Ia menggeleng pelan.
"Aku tidak melihat perbedaannya."
Yusuf tersenyum tipis.
"Itulah sebabnya seorang nassakh tidak boleh terburu-buru."
Ia menunjuk satu kata pada naskah induk.
Lalu menunjuk kata yang sama pada salinannya.
"Huruf ini."
Ahmad memicingkan mata.
Barulah ia menyadari.
Ada satu huruf yang tertukar.
Bukan seluruh kalimat.
Hanya satu huruf.
"Kecil sekali..."
gumam Ahmad.
"Benar."
"Kalau begitu... bukankah orang tetap akan mengerti maksudnya?"
Yusuf tidak langsung menjawab.
Ia justru memanggil Sahl yang masih berada di ujung ruangan.
Sahl datang mendekat, lalu memeriksa kedua naskah itu.
"Coba bacakan."
Yusuf membaca kalimat dari naskah induk.
Lalu membaca kalimat dari salinannya.
Kini Ahmad mulai merasakan bedanya.
Maknanya dan bunyinya menjadi berubah jauh.
Sahl menutup naskah perlahan.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
Yusuf menundukkan kepala.
"Mengulang halaman ini."
Ahmad terkejut.
"Hanya karena satu huruf?"
Yusuf mengangguk.
"Hanya karena satu huruf."
Ahmad spontan berkata,
"Tapi besok pagi orang itu akan datang."
"Itulah sebabnya aku harus mengulangnya malam ini."
Ruangan kembali sunyi.
Ahmad semakin bingung.
"Kalau orang itu tidak akan tahu, mengapa harus sesulit ini?"
Yusuf meletakkan penanya.
Ia memandang Ahmad, bukan sebagai anak kecil, tetapi sebagai seseorang yang sedang belajar memikul amanah.
"Ahmad."
"Menurutmu, untuk siapa aku menulis?"
"Untuk penuntut ilmu itu."
Yusuf menggeleng.
"Bukan."
"Untuk Guru Sahl?"
"Bukan."
"Lalu?"
Yusuf mengangkat naskah yang baru selesai disalinnya.
"Aku menulis untuk penulis kitab ini."
Ahmad terdiam.
"Beliau telah bersusah payah mencari ilmu, menyusunnya menjadi tulisan, lalu menitipkannya kepada orang-orang setelahnya."
Yusuf mengusap pelan tepi halaman.
"Ketika kitab itu sampai ke tanganku, tugasku bukan membuatnya lebih pandai."
"Bukan pula memperbaiki pendapat penulisnya."
"Tugasku hanya satu."
"Apa itu?"
"Menyampaikan apa yang beliau tulis... sebagaimana beliau menulisnya."
Sahl mengangguk pelan.
"Itulah amanah seorang nassakh."
Ia melanjutkan,
"Di Baitul Hikmah, banyak orang mencari ilmu. Ada penerjemah yang memindahkan hikmah dari satu bahasa ke bahasa lain, ada penjaga yang merawat koleksi, ada penyalin yang menjaga agar ilmu tidak hilang bersama rapuhnya kertas. Setiap orang memegang amanah yang berbeda, tetapi semuanya bertemu pada satu tujuan: agar ilmu tetap sampai kepada orang yang membutuhkannya."
Ahmad memandang kembali satu huruf yang baru saja mereka bicarakan.
Tiba-tiba huruf kecil itu terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Ia bukan sekadar tinta.
Ia adalah kepercayaan.
Yusuf kembali mengambil penanya.
Mencelupkannya perlahan ke dalam tinta.
Lalu menarik selembar kertas baru.
"Halaman ini harus kutulis kembali."
Di luar jendela, langit Baghdad telah benar-benar gelap.
Malam masih panjang.
Dan pekerjaan Yusuf... baru saja dimulai.
Malam telah larut.
Lampu minyak tinggal menyisakan nyala kecil yang sesekali bergoyang diterpa angin dari celah jendela.
Ruangan penyalinan yang tadi ramai kini benar-benar sunyi.
Hanya terdengar suara pena.
"Srak... srak... srak..."
Ahmad duduk bersandar pada salah satu tangannya disamping Yusuf.
Matanya beberapa kali terpejam, tetapi setiap kali suara pena berhenti, ia kembali terbangun.
Yusuf belum bergeser dari tempatnya, kecuali untuk shalat wajib yang tersisa dihari itu.
Ia tidak lagi menoleh ke kanan atau ke kiri.
Seluruh perhatiannya tertumpu pada selembar halaman yang sedang ditulis ulang.
Setiap huruf lahir perlahan.
Seolah-olah masing-masing memiliki nyawanya sendiri.
Ahmad mulai memahami mengapa tangan Yusuf tidak pernah terburu-buru.
Baginya...
kecepatan bukanlah tujuan.
Ketepatanlah yang harus lebih dahulu sampai.
Di luar, udara malam mulai berubah dingin.
Sesekali terdengar langkah penjaga malam melewati lorong-lorong Baitul Hikmah.
Ia berhenti di depan ruangan.
Melihat Yusuf yang masih bekerja.
Lalu hanya menganggukkan kepala sebelum melanjutkan ronda.
Pemandangan itu rupanya bukan hal yang asing.
Di rumah ilmu ini...
selalu ada seseorang yang mengorbankan malamnya.
Menjelang akhir malam, Yusuf akhirnya meletakkan penanya.
Ia tidak langsung tersenyum.
Ia kembali mengambil naskah induk.
Membandingkan halaman yang baru selesai ditulis.
Baris demi baris.
Huruf demi huruf.
Lama sekali.
Ahmad ikut menahan napas.
Hingga akhirnya...
Yusuf menutup kedua naskah itu bersamaan.
"Alhamdulillah."
Hanya satu kata.
Namun Ahmad merasa kata itu lebih berat daripada semua kalimat yang didengarnya malam itu.
Tak lama kemudian, azan Subuh mulai berkumandang dari kejauhan.
Suara itu merambat lembut melewati jendela-jendela Baitul Hikmah.
Yusuf merapikan lembaran-lembaran manuskrip.
Mengikatnya dengan pita kain.
Lalu berdiri.
"Sudah selesai, Tuan?" tanya Ahmad.
"Belum."
Ahmad mengerutkan dahi.
"Bukankah kitabnya sudah selesai?"
Yusuf tersenyum.
"Menulisnya sudah."
"Tetapi perjalanan kitab ini belum."
Kalimat itu kembali membuat Ahmad berpikir.
Sejak kemarin ia mengira pekerjaan seorang nassakh selesai ketika tinta terakhir mengering.
Ternyata tidak.
Matahari belum menampakkan diri ketika pintu Baitul Hikmah mulai dibuka.
Seorang pemuda memasuki halaman dengan pakaian yang masih dipenuhi debu perjalanan.
Di pundaknya tergantung sebuah kantong kecil.
Wajahnya tampak lelah.
Namun matanya berbinar.
Ia mengucapkan salam kepada para penjaga.
Lalu menyebut nama kitab yang ingin dipelajarinya.
Yusuf menyerahkan manuskrip yang telah selesai disalin.
Pemuda itu menerimanya dengan kedua tangan.
Ia mengusap pelan sampul sementara yang masih berupa lipatan kain.
"Semoga Allah membalas kebaikan orang yang menyalinnya."
Katanya lirih.
Ia tidak bertanya siapa penyalinnya.
Ia tidak tahu bahwa seseorang telah mengorbankan semalam penuh agar kitab itu siap ketika ia tiba.
Yusuf hanya membalas dengan senyum.
Baginya...
cukup mengetahui bahwa kitab itu telah sampai kepada orang yang mencarinya.
Pemuda itu pun berlalu bersama seorang pelayan menuju ruang baca.
Ahmad memandangi punggungnya hingga menghilang di balik lorong.
Kini ia mengerti.
Semalam Yusuf tidak menulis untuk dirinya sendiri.
Ia menulis agar pagi ini seseorang dapat belajar.
-----
Di atas meja Yusuf masih tersisa beberapa lembar manuskrip lain.
Belum selesai.
Belum terikat.
Belum memiliki sampul.
Yusuf mengangkatnya dengan hati-hati.
"Ke mana sekarang?" tanya Ahmad.
"Ikutlah."
Mereka berjalan melewati lorong yang lain.
Di sebuah ruangan yang dipenuhi gulungan benang linen, kulit yang telah disamak, dan papan-papan kayu tipis, seorang gadis muda sedang merapikan alat-alatnya.
Ia mengangkat wajah ketika melihat Yusuf datang.
"Sudah selesai?"
Yusuf mengangguk sambil menyerahkan manuskrip itu.
Perempuan itu tidak langsung mengambil jarum.
Ia membuka halaman pertama.
Memeriksa setiap lipatan.
Meraba permukaan kertas.
Menunggu beberapa saat agar benar-benar yakin tintanya telah kering.
Barulah ia tersenyum kecil.
"Tulisanmu selesai."
Yusuf menghela napas lega.
Perempuan itu mengambil segulung benang linen.
"Kalau begitu..."
"...biarkan aku menjaga umurnya."
Jarum kecil itu menembus lipatan pertama.
"Sret..."
Suara itu lirih.
Namun bagi Ahmad...
suara itu terdengar seperti awal dari sebuah pekerjaan baru.
Ia menoleh kepada Sahl.
"Guru..."
"Apakah setiap kitab harus melewati banyak tangan?"
Sahl tersenyum.
"Ilmu yang besar..."
"...jarang lahir dari satu tangan."
Ahmad kembali memandang perempuan yang mulai menjahit lembar demi lembar manuskrip itu.
Semalam ia melihat seseorang menjaga isi sebuah kitab.
Pagi ini ia melihat seseorang yang akan menjaga usia kitab itu.
Dan untuk pertama kalinya, Ahmad memahami bahwa di Baitul Hikmah, setiap orang bekerja bukan untuk dikenal.
Mereka bekerja agar ilmu terus hidup, bahkan ketika diri mereka telah tiada.
Bersambung ...
-----
Ditulis oleh : Pena Umat
-----
Serial Fiksi Historis ini InsyaAllah terbit setiap Ahad ...
-----
Mari kita jadikan kebesaran Baitul Hikmah bukan sekadar kisah yang kita kagumi, tetapi peradaban yang kita bangun kembali. Bersama wakaf, mari hadirkan Baitul Hikmah Nusantara. Klik gambar di bawah ini untuk menjadi bagian dari sejarahnya.
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)