Beranda Kabar Berita Dulu Indonesia Juara di...
Dulu Indonesia Juara di Panggung Ilmu
Renungan Peradaban

DULU INDONESIA JUARA DI PANGGUNG ILMU

Dulu Indonesia Juara di Panggung Ilmu

Ada sebuah kebahagiaan yang layak dirayakan bersama hari ini.


Untuk pertama kalinya, Indonesia berhasil menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026, setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya trofi itu datang juga ke tangan Garuda.

Maka, selamat untuk Timnas Indonesia.



Tidak perlu merendahkan sepak bola hanya karena ingin berbicara tentang ilmu. Tidak perlu pula membandingkan para pemain dengan ulama. Sebab keduanya memiliki medan perjuangan yang berbeda.


Namun, kemenangan ini barangkali bisa menjadi sebuah cermin.

Sebab ada satu fakta sejarah yang membuat kita layak bertanya:


Apakah dahulu Indonesia hanya pernah dikenal melalui sepak bola?


Ternyata tidak.


Jauh sebelum kita mengenal euforia mengangkat trofi di lapangan hijau, pernah ada seorang anak dari Tanara, Banten, yang namanya justru dikenal di pusat-pusat ilmu dunia Islam.


Namanya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi.

Dan menariknya, pengakuan tentang kehebatan beliau tidak hanya datang dari orang Indonesia.


Dalam sebuah penelitian yang terbit di Majalah al-'Ulum al-Syar'iyyah, Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamic University, Saudi Arabia, seorang akademisi Muslim dari Timur Tengah, Dr. Asma' bint Sa'd al-Rashoud, menulis secara eksplisit tentang Syaikh Nawawi.

Ia menyebut Nawawi al-Jawi:


محمد بن عمر النووي الجاوي ... من علماء زمانه البارزين


"Muhammad bin Umar al-Nawawi al-Jawi... termasuk ulama terkemuka pada zamannya."

Ini bukan tulisan orang Indonesia yang sedang membanggakan tokoh bangsanya.


Ini adalah penelitian seorang akademisi Arab Saudi, dari Departemen Akidah dan Mazhab Kontemporer, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Universitas Imam Muhammad bin Saud Islamic University.


Dan apa yang membuat Syaikh Nawawi disebut sebagai ulama terkemuka?

Beliau bukan sekadar menulis kitab di kampung halaman.


Beliau melakukan perjalanan ke pusat-pusat ilmu. Bermukim di Makkah. Menetap di sekitar Masjidil Haram. Bahkan mengajar di sana.

Penelitian tersebut secara khusus menyebut bahwa Nawawi termasuk ulama yang melakukan perjalanan ke Makkah, menetap di al-Haram al-Makki, dan mengemban tugas mengajar di sana.


Dari rahim Nusantara, lahir seorang ulama yang kemudian berada di tengah percakapan intelektual dunia Islam.

Salah satu karya terbesarnya adalah Marah Labid li Kasyf Ma'na al-Qur'an al-Majid, sebuah tafsir Al-Qur'an yang kemudian menjadi objek penelitian akademik di universitas Islam Saudi Arabia.


Bahkan penelitian Dr. Asma' tidak berhenti pada biografi.

Ia membedah cara berpikir Nawawi dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an, pengaruh ilmu kalam dan tasawuf dalam pemikirannya, serta bagaimana hal itu terlihat dalam tafsir Marah Labid.


Artinya, seorang ulama dari Banten, Indonesia, menjadi bahan kajian serius di salah satu institusi pendidikan Islam besar di Saudi Arabia.

Di sinilah kita mungkin perlu berhenti sejenak.


Hari ini kita bersyukur karena Indonesia akhirnya mampu berkata:


"Kita juara ASEAN!"


Dan itu membanggakan.


Tetapi sejarah pernah membuat Indonesia mampu mengatakan sesuatu yang lebih luas:


"Kita hadir di panggung ilmu dunia Islam."


Dulu, seorang anak dari Tanara pergi menuntut ilmu ke pusat dunia Islam.


Hari ini, jutaan anak Indonesia memenuhi jalan dan stadion untuk merayakan sepak bola.

Keduanya sama-sama layak diapresiasi.


Tetapi barangkali kemenangan Timnas hari ini seharusnya tidak hanya membuat kita bertanya:


"Kapan Indonesia bisa juara lagi?"


Melainkan juga:

"Kapan Indonesia kembali melahirkan generasi yang ilmunya menembus batas negeri?"

Karena menjadi juara sepak bola membuat nama Indonesia terdengar di Asia Tenggara.


Tetapi menjadi bangsa berilmu membuat nama Indonesia dibaca, dikaji, dan diwariskan oleh dunia.

Syaikh Nawawi telah menunjukkan bahwa itu pernah terjadi.


Maka, biarlah trofi ASEAN hari ini menjadi kabar gembira.


Dan biarlah Syaikh Nawawi menjadi pengingat:

Indonesia tidak pernah ditakdirkan hanya untuk menjadi penonton di panggung dunia.


Dulu, anak dari Tanara itu membawa nama Jawa ke Makkah.

Dan dari sana, ilmunya pulang ke Nusantara, lalu terus dipelajari hingga hari ini.


Mungkin sekarang waktunya kita tidak hanya bermimpi melahirkan juara di lapangan.

Tetapi juga melahirkan kembali para juara ilmu.


Karena sepak bola memberi kita trofi untuk dirayakan.

Sedangkan ilmu memberi kita warisan untuk generasi yang akan datang.


Selamat untuk Garuda.


Dan selamat datang kembali pada satu pertanyaan besar tentang bangsa ini:

Setelah juara ASEAN, mampukah suatu hari Indonesia kembali menjadi juara di panggung ilmu dunia?


Wallahu'alam


----


Ditulis Oleh: Pena Umat


----


Bagikan kabar kebajikan ini:

Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id