PAGI YANG BERBEDA
Pagi Yang Berbeda
Pernahkan bangun pagi dengan sesak dada, entah apa yang menghimpitnya.
Sementara di pagi yang lain, dibangunkan oleh binar hati menembus semesta.
Ya, karena pagi adalah kalimat pertama yang menjelaskan semua paragraf malam.
Pagi ini berbeda...
Tak pernah saya bangun dengan hati dikuasai haru yang duduk di atas bongkahan bahagia.
Saya berharap detik berjalan lebih lambat dari biasanya.
Sampai-sampai saya berkhayal andai semua pagi seperti ini.
Sepekan ini menguras fisik. Dari pagi hingga malam. Kemudian pagi sampai malam. Dan begitulah berikutnya, bermula saat langit baru saja terang dan berakhir ditemani malam yang menyempurnakan dirinya. Dibangunkan oleh terang dan direbahkan oleh malam.
Sepekan ini ilmu adalah tuannya. Ia berhak bicara apa saja. Ia yang punya kuasa mengatur seluruh yang hadir dan waktunya. Ia satu satunya pusat perhatian semua. Apapun warna yang dipakainya, jubah kebesarannya memukau semua hati yang tersadar.
Sepekan ini bermula dari diuji dan diakhiri dengan disyukuri. Semuanya tentang ilmu. Ia menyuguhkan dua sisi bumi; sabar dan syukur. Ia mengajarkan agar bertahan dan tabah, semoga penghujung waktu kita adalah senyum dan senang.
Ilmu yang telah mengumpulkan semua serak kenangan. Ilmu lah yang mengumpulkan dengan lantang panggilannya. Ilmu lah yang mengangkat tinggi derajat pemiliknya disemayamkan di bintang; tinggi, indah dan berkilau.
Sesungguhnya ini tentang literasi yang tersimpan di rak-rak terdalam perpustakaan. Kalaupun ada yang menjamah hanyalah debu dan bukan tangan yang menelaahnya.
Literasi itu dikeluarkan di antara jajaran sepi dan bisu buku-buku. Kemudian ditelateni kata per katanya hingga huruf terakhir. Dengan kesadaran penuh tanpa distraksi gegap gempita viralitas. Selanjutnya ditelaah, dibandingkan, divalidasi dan sampailah pada garis finish: membangun narasi.
Narasi lahir dari perjalanan panjang kebersamaan dan sentuhan lembut pada setiap lembar literasi. Kaidah-kaidah lahir dengan kalimat singkat, tapi kedalaman dan keluasannya hanya bisa dijangkau oleh mereka yang pernah menyelam di kedalaman yang sama. Inilah yang mengawal perjalanan baru yang bahkan mereka yang disebut pemberani hari ini menghindarinya.
Dan aksi adalah garis finish yang harus disentuh oleh semua narasi. Kalau tidak, artinya semua narasi hanya omong kosong yang terjatuh sebelum mencapai finish. Aksi adalah puncak narasi. Tanpanya, hanya mengundang murka Allah.
Diawali dengan ikhtibar syamil dan diakhiri dengan hidzaqoh, sesungguhnya adalah pengejawantahan literasi yang melahirkan narasi dan mewujudkan aksi.
Ini bukan landasan pacu sebuah acara. Tapi ini kerja-kerja peradaban.
Karenanya, pernahkah kita bayangkan dahsyatnya pagi yang malam sebelumnya adalah pengumuman tegaknya kekuasaan syariat Allah di bumi Nya...
Ya Robb, tak sulit bagimu untuk mengizinkan kami menyaksikannya.
Amin
Rasa yang belum mau pergi
HIDZAQOH MAF 2026/1448
#LITERASI-NARASI-AKSI
Std.
ibnuwaris
---
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)