HIDZAQOH - PILAR PERTAMA
Hidzaqoh - Pilar Pertama
Sudah tiga hari berturut-turut Hidzaqoh diselenggarakan di Madrasah Al-Fatih. Selama itu pula, kabarnya beredar dari satu tangan ke tangan yang lain, dari satu layar ke layar berikutnya. Status WhatsApp para guru, unggahan para staf, dan postingan orang tua santri Kuttab maupun Madrasah Al-Fatih dipenuhi potongan-potongan peristiwa yang berlangsung di sana.
Ada yang membagikan gambar panggungnya, ada yang mengutip kalimat-kalimat tentang ilmu, dan ada pula yang menyampaikan kegembiraannya melihat pendidikan generasi muda di Al-Fatih. Kabar itu menyebar, disertai rasa syukur dan harapan. Beberapa kalimat yang semula diucapkan di dalam sebuah acara, kini dibaca oleh orang-orang yang bahkan tidak hadir menyaksikannya.
Demikianlah zaman sekarang. Sebuah peristiwa dapat berlangsung di satu tempat, tetapi gaungnya menjalar ke tempat-tempat yang jauh. Orang yang tidak menyaksikan dengan mata sendiri dapat turut mendengar ceritanya. Orang yang tidak berada di dalam ruangan dapat membaca kalimat-kalimat yang terucap di sana. Dan dari sekian banyak kabar yang beredar, ada yang berhenti sebagai tontonan, ada pula yang tinggal lebih lama di dalam pikiran, menjadi bahan renungan bagi orang yang membacanya.
Hidzaqoh termasuk salah satu peristiwa yang mengundang banyak perhatian itu. Di antara potongan gambar dan kalimat yang dibagikan, tersimpan pesan tentang ilmu, tentang pendidikan, dan tentang harapan bagi generasi yang sedang tumbuh. Banyak orang merasa terinspirasi. Banyak pula yang semakin teguh meyakini bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada urusan menyelesaikan jenjang belajar, lalu menerima selembar ijazah sebagai tanda bahwa perjalanan telah berakhir.
Namun, di tengah kabar yang semakin ramai itu, timbul sebuah pertanyaan yang menurut saya patut diajukan.
Sudahkah kita benar-benar mengetahui apa itu Hidzaqoh?
Kita mungkin telah melihat panggungnya, membaca kutipan-kutipannya, atau mendengar cerita tentang santri-santri yang mengikuti rangkaian acaranya. Akan tetapi, melihat sebuah peristiwa tidaklah selalu berarti memahami apa yang ada di baliknya. Seseorang dapat menyaksikan sebuah bangunan yang megah tanpa mengetahui siapa yang mendirikannya, berapa lama ia dirancang, dan pemikiran apa yang melandasi pembangunannya. Demikian pula sebuah perayaan ilmu. Kita dapat melihat kemeriahannya, tetapi belum tentu mengerti mengapa ia perlu diadakan.
Apakah Hidzaqoh hanya sebuah perayaan kelulusan? Apakah ia sekadar acara pembagian ijazah, tempat para penuntut ilmu menandai berakhirnya masa belajar mereka? Jika demikian, apakah yang membedakannya dari wisuda yang selama ini kita kenal?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak saya ajukan untuk mengecilkan sebuah perayaan. Justru sebaliknya. Saya merasa bahwa sesuatu yang begitu banyak dibicarakan, terlebih jika menyangkut ilmu dan pendidikan, patut dikenal lebih dalam sebelum kita merasa cukup hanya dengan mengaguminya.
Sebab, ada perbedaan antara mengagumi sesuatu yang tampak di hadapan mata dan memahami gagasan yang membuatnya hadir. Yang pertama dapat tumbuh dalam sekejap, sedangkan yang kedua memerlukan kesediaan untuk mendengar, menelusuri, dan memikirkan kembali apa yang selama ini kita anggap sudah kita ketahui.
Maka, melalui tulisan ini, izinkan saya mengajak Sobat Tarahum untuk berjalan sedikit lebih jauh dari sekadar melihat kabar yang beredar. Kita akan mencoba mengenal Hidzaqoh dari awal, memahami bagaimana gagasan ini dirumuskan, dan melihat bagaimana ia dihadirkan dalam pendidikan di Kuttab dan Madrasah Al-Fatih.
Barangkali, setelah mengetahui apa yang berada di baliknya, kita akan menemukan bahwa yang sedang dibicarakan bukan semata-mata sebuah acara, melainkan sebuah cara memandang ilmu dan kedudukannya dalam kehidupan.
Untuk mengetahui semua itu, saya harus kembali ke pagi ketika saya datang ke Madrasah Al-Fatih, pada hari ketiga pelaksanaan Hidzaqoh, 15 Oktober 2026.
Pagi itulah pencarian saya bermula.
Saya datang untuk mencari tahu tentang Hidzaqoh. Namun, orang pertama yang saya temui justru mengarahkan saya kepada seseorang yang tidak pernah terlintas dalam dugaan saya.
Pagi itu, 15 Oktober 2026, rangkaian Hidzaqoh memasuki hari ketiga. Saya datang ke Madrasah Al-Fatih dengan maksud meliput kegiatan tersebut, bukan sekadar memberitakan apa yang berlangsung di atas panggung, melainkan mencari tahu gagasan yang melandasinya.
Saya pun menghubungi Waalid Ilham melalui aplikasi pesan WhatsApp, beliau adalah salah seorang guru sekaligus pendiri Yayasan Al-Fatih Peradaban Ilmu.
“Waalid, kira-kira siapa yang harus saya wawancarai untuk mengetahui lebih dalam terkait acara Hidzaqoh ini?” tanya saya.
Dalam pikiran saya, jawabannya tentu sudah jelas. Siapa lagi yang paling tepat menjelaskan konsep pendidikan dan sejarah peradaban Islam di balik acara ini selain Kyai Budi Ashari, guru kita semua?
Akan tetapi, jawaban yang saya terima justru berbeda.
Melalui pesan WhatsApp, Waalid mengarahkan saya kepada Usamah Haiva, putra kedua Kyai Budi Ashari, yang lebih akrab disapa Gus Usamah.
“Antum wawancarai Gus Usamah, karena dari dia ini semua bermula.”
Saya membaca pesan itu sekali lagi.
Dari dia semua bermula?
Saya mulai bertanya-tanya. Bukankah Hidzaqoh merupakan gagasan yang lahir dari kajian sejarah peradaban Islam bersama Kyai? Jangan-jangan Gus Usamah hanya menerima amanah untuk menjalankan gagasan ayahnya, sedangkan konsep dan rancangan utamanya tetap disusun oleh sang Kyai.
Pikiran itu terasa masuk akal bagi saya saat itu. Namun, saya belum memiliki jawaban yang pasti. Maka, daripada terus menduga-duga, lebih baik saya menemui orang yang dimaksud.
Ketika akhirnya berhadapan dengan Gus Usamah, saya kembali menemukan sesuatu yang menarik perhatian.
Sekilas, penampilannya begitu mengingatkan saya kepada Kyai Budi Ashari. Songkok hitam, kemeja batik berlengan panjang, dan kacamata yang dikenakannya membuat keduanya tampak sangat mirip. Jika dilihat sepintas, orang mungkin akan mengira bahwa yang berdiri di hadapannya adalah sang ayah.
Tentu, kemiripan itu bukan semata-mata perkara wajah dan penampilan. Ada sesuatu yang membuat saya teringat pada ungkapan bahwa seorang anak kerap membawa jejak orang yang dikaguminya.
Saya tidak mengetahui seluruh proses yang membentuk diri Gus Usamah. Namun, dari penampilannya saja, tampak kesan kuat bahwa ia mengagumi dan berusaha meneladani ayahnya.
Di sinilah saya teringat kepada para ayah. Keteladanan tidak selalu bermula dari nasihat panjang yang diberikan kepada anak. Terkadang, ia tumbuh dari sosok yang setiap hari dilihatnya, dari cara ayahnya berpakaian, berbicara, bersikap, dan menjalankan amanah. Anak mungkin tidak selalu mengingat semua perkataan ayahnya, tetapi apa yang terus-menerus dilihatnya dapat tinggal lebih lama dalam dirinya.
Barangkali, salah satu warisan terpenting seorang ayah bukanlah apa yang kelak diberikan kepada anaknya, melainkan pribadi seperti apa yang diperlihatkannya setiap hari.
Namun, pagi itu saya datang bukan untuk membicarakan kemiripan seorang anak dengan ayahnya. Masih ada pertanyaan yang lebih penting untuk saya ajukan.
Saya menyapa Gus Usamah, lalu menyampaikan maksud kedatangan saya.
“Ane mau meliput kegiatan acara Hidzaqoh ini. Kata Waalid, ane harus wawancara antum?”
Gus Usamah menjawab dengan santai, “Oh ya, naam. Ikut saya saja, kita ngobrol di ruangan belakang panggung.”
Kami pun meninggalkan panggung yang masih menjadi tempat berlangsungnya ujian para santri. Saat itu, seorang santri ikhwan sedang diuji kemampuan bahasa Arabnya di hadapan para penguji.
Saya mengikuti Gus Usamah menuju ruangan di belakang panggung. Di sanalah percakapan kami akan dimulai, dan di sanalah pula dugaan-dugaan saya tentang siapa yang merancang Hidzaqoh mulai mendapatkan jawabannya.
Sebab, orang yang sejak tadi saya kira hanya menjalankan amanah ayahnya, ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih menarik daripada perkiraan saya.
---
Saya datang dengan beberapa pertanyaan. Namun, saya belum tahu bahwa jawaban pertama dari Gus Usamah justru akan membuat pertanyaan-pertanyaan itu bertambah.
Kami duduk di sofa yang berjejer di sebuah ruangan belakang panggung. Dari tempat itu, suara pengeras masjid masih terdengar, meskipun tidak terlalu keras. Ujian para santri terus berlangsung di ruangan utama, sementara kami bersiap membicarakan sesuatu yang menjadi dasar dari seluruh kegiatan tersebut.
Gus Usamah memandang saya, lalu bertanya dengan santai,
“Gimana, Kang? Apa yang mau kita diskusikan nih?”
Saya memilih memulai dari pertanyaan yang paling sederhana.
“Hidzaqoh ini sama dengan wisuda, ya, Gus?”
Ia tersenyum tenang sebelum menjawab.
“Ya, mungkin untuk definisi hari ini bisa dibilang begitu. Tapi sebenarnya masih kurang lengkap, Kang.”
Kurang lengkap?
Saya kembali menangkap kata-kata itu. Jika Hidzaqoh memang seperti wisuda, mengapa ia mengatakan bahwa pengertian tersebut belum cukup? Bukankah yang saya saksikan di luar sana adalah sebuah perayaan bagi para penuntut ilmu?
Saya pun teringat pada pesan Waalid. Katanya, Gus Usamah adalah orang yang mengetahui bagaimana Hidzaqoh bermula. Kalau begitu, saya ingin mendengar kisahnya langsung, bukan hanya penjelasan tentang acara yang sedang berlangsung.
“Oh ya? Kalau begitu, kita lanjut yang tadi, Gus. Kata Waalid, yang tahu proses Hidzaqoh bermula ini adalah antum. Bisa dijelaskan? Terus, bedanya Hidzaqoh dengan wisuda itu apa kalau menurut antum kurang lengkap?”
Pertanyaan itu saya ajukan berturut-turut. Rasa ingin tahu saya memang semakin besar, tetapi sejujurnya masih ada sedikit keraguan. Benarkah pemuda yang duduk di hadapan saya ini memahami seluruh gagasan di balik Hidzaqoh, ataukah ia sekadar menyampaikan apa yang telah diarahkan kepadanya?
Gus Usamah kembali tersenyum.
“Oh ya, naam. Jadi begini, Kang. Kita jawab satu-satu.”
Lalu ia mulai bercerita.
Sikapnya tenang. Cara ia menyusun penjelasan, kejelasan intonasinya, hingga penekanannya ketika sampai pada bagian-bagian penting, mengingatkan saya pada Kyai Budi Ashari ketika menyampaikan kajian. Ia tidak terburu-buru menjawab seluruh pertanyaan sekaligus, melainkan mengajak saya memahami persoalannya dari awal.
“Sebelum membahas bedanya wisuda dan Hidzaqoh, saya jelaskan dulu cerita awal mula acara Hidzaqoh ini, ya. Jadi, pembahasan Hidzaqoh ini sudah menjadi bahan diskusi saya dengan Kyai tahun lalu. Kyai sangat intens mengajak saya berdiskusi terkait konsep Hidzaqoh ini. Bahkan, diskusinya bukan sekadar ngobrol, tetapi berdasarkan literatur dalam sejarah peradaban Islam.”
Saya menyimak baik-baik.
Ia kemudian melanjutkan, “Hasil diskusi itu saya buat menjadi sebuah konsep dan blueprint-nya agar bisa direalisasikan di lapangan.”
Saya terdiam.
Ada satu bagian dari penjelasan itu yang segera menarik perhatian saya. Selama ini, saya membayangkan Kyai Budi Ashari sebagai orang yang menyusun seluruh konsep, sementara Gus Usamah menjalankan apa yang telah dirancang oleh ayahnya. Namun, dari penjelasan yang baru saja saya dengar, duduk persoalannya ternyata tidak sesederhana itu.
Kyai memberikan arah melalui kajian dan diskusi. Adapun Gus Usamah menyusun gagasan tersebut menjadi konsep dan rancangan yang dapat diwujudkan.
Jadi, ia bukan sekadar menerima perintah untuk melaksanakan sebuah acara. Ia terlibat dalam proses memahami gagasan, menyusun bentuknya, dan memikirkan bagaimana gagasan itu dapat hadir dalam kehidupan nyata.
Saya kembali teringat pada alasan Waalid mengarahkan saya kepadanya.
Dari dia ini semua bermula.
Kini, kalimat itu mulai menemukan maknanya. Tetapi saya belum mengetahui sejauh mana keterlibatan Gus Usamah dalam mewujudkan Hidzaqoh, dan bagaimana ia mengubah hasil kajian sejarah menjadi sebuah kegiatan yang dapat disaksikan oleh banyak orang.
Saya membiarkannya melanjutkan cerita.
Sebab, dari percakapan yang baru berjalan beberapa menit itu, saya mulai memahami bahwa untuk mengenal Hidzaqoh, saya tidak cukup hanya bertanya tentang apa yang tampak di atas panggung. Saya harus menelusuri pemikiran yang melahirkannya.
Dan perjalanan itu baru saja dimulai.
Menyusun sebuah gagasan tentu berbeda dengan sekadar menjalankan sebuah perintah. Yang pertama menuntut seseorang memahami apa yang hendak diwujudkan, sedangkan yang kedua cukup mengikuti apa yang telah ditentukan. Dan dari penjelasan Gus Usamah, saya mulai melihat bahwa pekerjaannya tidak berhenti pada memahami hasil diskusi bersama Kyai.
Ia harus membawa hasil kajian itu ke dalam bentuk yang dapat dikerjakan.
“Untuk menjalankan konsep Hidzaqoh ini, saya membuat tim teknis untuk pelaksanaannya. Mereka adalah Ustadz Rais, Ustadz Aufa, Ustadz Faruq, dan Ustadz Muadz,” lanjutnya.
Saya kembali menyimak. Ternyata, setelah konsep disusun, Gus Usamah juga membentuk tim yang bertugas merealisasikannya. Ada pembagian peran, ada orang-orang yang harus bekerja bersama, dan ada gagasan yang perlu diterjemahkan menjadi sebuah kegiatan nyata.
Di sinilah pikiran saya mulai dipenuhi pertanyaan lain.
Bagaimana seorang pemuda seusianya dapat memikirkan pekerjaan sejauh itu? Bagaimana ia memahami sebuah pembahasan dalam literatur sejarah, kemudian menyusunnya menjadi rancangan kegiatan, membagi tanggung jawab, dan menyiapkan orang-orang yang akan melaksanakannya?
Apakah semua ini semata-mata karena ia putra seorang kyai? Ataukah ada kemampuan yang selama ini belum saya lihat?
Saya tidak ingin tergesa-gesa menjawabnya. Kedudukan seseorang memang dapat memberinya kesempatan untuk belajar, tetapi kesempatan saja belum tentu melahirkan pemahaman. Ada proses yang harus dijalani, ada pengetahuan yang mesti dikuasai, dan ada tanggung jawab yang harus dipikul.
Sementara itu, Gus Usamah tetap menjelaskan dengan tenang. Cara ia menyampaikan gagasan membuat saya merasa seperti sedang mengikuti kuliah sejarah peradaban Islam. Ada bagian yang segera saya pahami, tetapi ada pula yang perlu saya cerna lebih lama sebelum dapat menangkap maksudnya.
Saya mulai menyadari bahwa persoalan yang sedang kami bicarakan bukanlah perkara kecil. Hidzaqoh tidak dirancang hanya agar sebuah acara dapat berlangsung dengan tertib dan meriah. Ada pemikiran tentang ilmu, ahli ilmu, dan pendidikan yang hendak dihadirkan melalui kegiatan tersebut.
Lalu Gus Usamah menyampaikan sebuah kalimat yang membuat saya memahami betapa lama gagasan ini dinantikan di Madrasah Al-Fatih.
“Dalam sejarah peradaban Islam, Hidzaqoh ini adalah momen yang sangat sakral untuk ilmu dan ahli ilmu. Kami menantikannya cukup lama di Madrasah Al-Fatih ini, penantian panjang bahkan sampai enam angkatan. Alhamdulillah, acara ini bisa terealisasikan sekarang.”
Enam angkatan.
Saya berhenti sejenak memikirkan angka itu. Hidzaqoh bukanlah sesuatu yang baru muncul ketika panggung didirikan atau ketika para santri mulai mengikuti ujian. Ada penantian panjang sebelum kegiatan ini benar-benar dapat diselenggarakan.
Kini, saya ingin mengetahui lebih jauh apa yang membuatnya begitu penting, hingga perlu dikaji dan dipersiapkan sedemikian rupa.
Gus Usamah kemudian mengarahkan pembicaraan kepada pertanyaan yang sejak awal ingin saya jawab.
“Sekarang mungkin kita bahas perbedaan Hidzaqoh dengan wisuda hari ini, ya, Kang. Jadi, dalam Hidzaqoh ini ada tiga pilar penting.”
Saya bersiap menyimak.
Akhirnya, pembicaraan kami sampai pada inti persoalan. Bukan lagi tentang siapa yang menyusun konsepnya atau berapa lama kegiatan ini dinantikan, melainkan apa sebenarnya yang membedakan Hidzaqoh dari wisuda yang selama ini kita kenal.
Dan Gus Usamah mulai menjelaskan pilar yang pertama.
“Pilar yang pertama dalam Hidzaqoh itu adalah Ikhtibar Syamil.”
Ada satu hal yang sejak awal sulit saya pahami: mengapa sebuah ujian harus diselenggarakan di atas panggung dan disaksikan oleh begitu banyak orang?
Pertanyaan itu muncul ketika Gus Usamah mulai menjelaskan pilar pertama Hidzaqoh, yaitu Ikhtibar Syamil.
“Ikhtibar Syamil hari ini mungkin bisa disamakan dengan ujian komprehensif, meskipun secara ruh kegiatannya sangat jauh berbeda,” jelasnya.
Saya menyimak. Istilah ujian komprehensif bukan sesuatu yang asing bagi saya. Namun, ketika Gus Usamah mengatakan bahwa keduanya memiliki perbedaan dalam ruh kegiatan, saya mulai bertanya-tanya, di manakah letak perbedaan itu?
Ia kemudian menjelaskan bahwa Ikhtibar Syamil merupakan bagian pembuka dari rangkaian Hidzaqoh. Dalam kegiatan ini, para penuntut ilmu diuji oleh beberapa penguji yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing. Seorang peserta, yang disebut Mukhtabir, akan menghadapi pertanyaan tentang berbagai ilmu yang telah dipelajarinya selama menempuh pendidikan di Madrasah Al-Fatih.
Al-Qur'an, bahasa Arab, fikih, dan berbagai bidang ilmu lainnya menjadi bagian dari pengujian tersebut. Semuanya berlangsung di atas panggung, disaksikan oleh para guru, ahli ilmu, serta para penuntut ilmu yang lain.
Saya kembali memikirkan penjelasan itu.
Mengapa harus di hadapan banyak orang? Mengapa seorang santri harus menghadapi beberapa penguji sekaligus? Bukankah pemahaman seseorang dapat diperiksa melalui ujian tertulis, tanpa perlu mempertontonkannya di hadapan orang banyak?
Belum selesai pertanyaan itu saya pikirkan, Gus Usamah melanjutkan penjelasannya.
“Ilmu-ilmu yang diuji di Ikhtibar Syamil secara teknis adalah pertanyaan acak dari setiap penguji tentang ilmunya masing-masing.”
Saya semakin ingin memahami maksudnya. Rupanya, peserta tidak sekadar mengerjakan soal yang telah disiapkan sebelumnya. Ia harus menjawab pertanyaan dari beberapa bidang ilmu, sesuai dengan pertanyaan yang diajukan para penguji.
Lalu, untuk apa pengujian seperti ini dilakukan?
Gus Usamah membawa pembicaraan kepada sebuah gambaran dari sejarah peradaban Islam.
“Seperti dalam sejarah Islam yang pernah saya diskusikan dengan Kyai, misalnya ada seorang anak sultan yang diuji satu ilmu, tentang Al-Qur'an. Tidak mesti banyak ilmu yang diuji, tetapi hal ini dilakukan untuk mengetes sudah sejauh mana pemahaman anak sultan ini terhadap ilmu Al-Qur'an. Dan bahkan, Ikhtibar Syamil tidak ada korelasinya dengan kelulusan seseorang.”
Saya terdiam.
Tidak ada korelasi dengan kelulusan?
Kalimat itu justru membuat saya semakin bingung. Jika seseorang diuji dengan berbagai pertanyaan tentang ilmu yang telah dipelajarinya, mengapa hasilnya tidak menentukan kelulusan? Bukankah ujian biasanya diselenggarakan untuk mengetahui apakah seseorang layak melanjutkan atau menyelesaikan pendidikannya?
Saya kembali menatap Gus Usamah. Pertanyaan yang semula hanya menyangkut cara pelaksanaan ujian kini berubah menjadi pertanyaan tentang tujuan pendidikan itu sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang dapat dinyatakan lulus, tetapi pemahamannya terhadap ilmu masih harus diuji?
Dan jika pengujian itu tidak menentukan kelulusan, apa sebenarnya yang hendak dicapai melalui Ikhtibar Syamil?
Saya belum menemukan jawabannya. Namun, dari cara Gus Usamah menjelaskan, saya merasa bahwa persoalan ini tidak dapat dipahami hanya dengan membandingkannya dengan ujian yang selama ini kita kenal.
Ada sesuatu yang lebih mendasar di baliknya.
Jawaban Gus Usamah berikutnya membuat saya mulai memahami mengapa Ikhtibar Syamil tidak menjadikan kelulusan sebagai ukuran utamanya.
“Kyai kan pernah bilang, kalau orientasi ilmu itu jangan berhenti sebatas pemahaman dan wawasan, tetapi harus berujung pada amal. Tapi bagaimana kita bisa mengamalkan ilmu jika kita tidak memahaminya?”
Saya terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi justru di situlah letak persoalannya. Selama ini, kita terbiasa menganggap ujian sebagai jalan untuk menentukan kelulusan. Seseorang belajar, mengikuti ujian, mendapatkan nilai, kemudian dinyatakan lulus apabila memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Setelah itu, ia membawa ijazah sebagai tanda bahwa satu jenjang pendidikan telah diselesaikan.
Namun, apakah selesainya pendidikan selalu berarti bahwa seseorang telah memahami ilmu yang dipelajarinya?
Gus Usamah melanjutkan penjelasannya.
“Maka dari itulah Ikhtibar Syamil ini menjadi tolok ukur sejauh mana pemahaman para penuntut ilmu tentang ilmu mereka, agar mereka bisa mengamalkannya setelah lulus nanti.”
Kini saya mulai mengerti. Ikhtibar Syamil tidak dimaksudkan untuk menghalangi kelulusan para santri, melainkan untuk memperlihatkan sejauh mana mereka memahami ilmu yang telah dipelajari. Kelulusan dan pemahaman adalah dua perkara yang tidak selalu dapat diukur dengan cara yang sama.
Seseorang mungkin telah menyelesaikan masa belajarnya, tetapi masih perlu mengetahui bagian mana dari ilmunya yang benar-benar ia kuasai dan bagian mana yang harus diperdalam. Sebab, jika tujuan pendidikan hanya menyelesaikan jenjang belajar, kita bisa saja merasa cukup ketika ijazah telah diterima, meskipun pemahaman terhadap ilmu belum sebagaimana mestinya.
Di sinilah saya mulai menangkap maksud Hidzaqoh.
Yang hendak diperlihatkan melalui Ikhtibar Syamil bukan sekadar siapa yang mampu menjawab pertanyaan, melainkan sejauh mana ilmu yang dipelajari telah dipahami oleh penuntutnya. Dengan mengetahui tingkat pemahaman itu, seorang santri memiliki bekal untuk memperbaiki dan menguatkan ilmunya sebelum membawanya ke dalam kehidupan.
Saya pun teringat pada nasihat-nasihat yang kerap disampaikan para guru di Al-Fatih. Ilmu tidak sepatutnya berhenti sebagai wawasan yang tersimpan dalam pikiran, apalagi sekadar menjadi gelar yang melekat pada nama seseorang. Ilmu harus menuntun pemiliknya kepada amal.
Sebab, apa gunanya seseorang mengetahui banyak perkara jika pengetahuannya tidak membimbing tindakannya? Apa artinya sebuah ilmu dipelajari bertahun-tahun jika ia tidak memberi manfaat bagi kehidupan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa semakin dekat dengan pembicaraan kami pagi itu.
Kita hidup pada masa ketika gelar akademik dapat diperoleh melalui perjalanan pendidikan yang panjang. Gelar itu tentu memiliki tempat dan nilainya sendiri. Namun, gelar bukanlah jaminan bahwa setiap ilmu yang dipelajari telah benar-benar dipahami, terlebih lagi diamalkan.
Kita dapat menjumpai orang yang memiliki pengetahuan luas, tetapi pengetahuannya belum banyak mengubah cara ia bertindak. Ada pula ilmu yang berhenti sebagai kebanggaan pribadi, tidak berkembang menjadi karya, dan tidak menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Tentu, bukan berarti setiap orang yang telah lulus atau menyandang gelar demikian keadaannya. Akan tetapi, keadaan itu cukup menjadi alasan bagi kita untuk kembali bertanya: apakah pendidikan telah mengantarkan manusia kepada tujuan ilmu yang sesungguhnya?
Pagi itu, saya merasa pertanyaan tersebut menemukan tempatnya dalam konsep Ikhtibar Syamil.
Pendidikan tidak cukup hanya mengantarkan seseorang sampai di garis kelulusan. Ia juga harus memperhatikan apa yang dibawa seseorang setelah melewati garis itu. Apakah ia membawa pemahaman yang benar? Apakah ilmu tersebut akan membimbing amalnya? Dan apakah kelak ia mampu menghadirkan manfaat dari apa yang telah dipelajarinya?
Saya kembali memikirkan para santri yang diuji di atas panggung. Mereka tidak sedang menghadapi sebuah ujian yang menentukan apakah perjalanan pendidikan mereka boleh berakhir atau tidak. Mereka sedang diperlihatkan sejauh mana pemahaman mereka terhadap ilmu yang telah dipelajari.
Kini, pemandangan itu terasa berbeda bagi saya.
Saya datang dengan anggapan bahwa ujian semacam ini mungkin hanya sebuah rangkaian acara yang dibuat lebih meriah daripada ujian biasa. Namun, setelah mendengar penjelasan Gus Usamah, saya mulai melihat bahwa yang sedang dibicarakan jauh lebih mendasar: bagaimana memastikan ilmu tidak berhenti pada proses belajar, tetapi bergerak menuju amal dan karya.
Dan saya baru saja memahami pilar pertama Hidzaqoh.
Masih ada dua pilar lainnya yang belum dijelaskan Gus Usamah. Saya pun kembali menyiapkan diri untuk menyimak, sebab semakin jauh percakapan ini berjalan, semakin saya menyadari bahwa memahami sebuah kegiatan pendidikan tidak cukup dengan melihat apa yang dilakukan di atas panggung. Kita juga harus memahami tujuan yang hendak dicapai melalui setiap kegiatannya.
Pembicaraan kami di ruang belakang panggung itu belum selesai.
----
Bersambung ...
---
Ditulis Oleh : Pena Umat
---
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)