DERMAWAN ITU DICINTAI ALLAH
Dermawan Itu Dicintai Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia adalah Maha Pemurah."
"Dia mencintai sifat dermawan."
"Dia juga mencintai akhlak-akhlak yang luhur."
"Dan membenci akhlak yang rendah dan hina."
Sumber: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam Makārimul Akhlāq dan diriwayatkan pula melalui beberapa jalur lainnya. Para ulama menjelaskan bahwa sanad hadis ini memiliki kelemahan, namun maknanya dikuatkan oleh riwayat-riwayat lain sehingga kandungannya sejalan dengan prinsip-prinsip syariat tentang keutamaan kedermawanan dan akhlak mulia.
------
Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ mengawali hadis ini.
Beliau tidak langsung memerintahkan kita untuk menjadi dermawan.
Beliau terlebih dahulu mengenalkan kepada kita siapa Allah.
"Sesungguhnya Allah Maha Pemurah."
Seakan-akan Rasulullah ﷺ ingin mengajarkan bahwa akhlak seorang mukmin berawal dari pengenalannya terhadap Rabbnya.
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia ingin meneladani sifat-sifat yang Allah cintai pada diri hamba-Nya.
Karena Allah Maha Pengasih, seorang mukmin belajar mengasihi.
Karena Allah Maha Pemaaf, seorang mukmin belajar memaafkan.
Dan karena Allah Maha Pemurah, seorang mukmin pun belajar menjadi dermawan.
Itulah sebabnya setelah menyebut sifat Allah, Rasulullah ﷺ langsung melanjutkan:
"Dia mencintai sifat dermawan."
Dermawan bukan sekadar banyak memberi.
Dermawan adalah hati yang tidak sempit ketika melihat orang lain membutuhkan.
Ia ringan mengeluarkan harta, tenaga, waktu, ilmu, bahkan doa untuk kebaikan saudaranya.
Lalu Rasulullah ﷺ menghubungkannya dengan akhlak-akhlak yang luhur.
Ini menunjukkan bahwa kedermawanan bukan hanya masalah harta, tetapi bagian dari kemuliaan akhlak.
Seseorang bisa kaya, tetapi belum tentu dermawan.
Sebaliknya, seseorang yang hartanya terbatas tetap dapat menjadi dermawan melalui senyum, perhatian, ilmu, tenaga, bahkan waktu yang ia berikan untuk membantu orang lain.
Sayangnya, di zaman ini kita justru melihat gejala yang sebaliknya.
Tidak sedikit kaum muslimin yang mudah menghabiskan harta untuk keinginan pribadi, tetapi merasa berat ketika diminta membantu perjuangan dakwah, pendidikan Islam, fakir miskin, anak yatim, atau pembangunan lembaga yang akan memberi manfaat bagi umat.
Padahal harta yang kita miliki bukanlah milik mutlak kita.
Ia adalah amanah yang Allah titipkan untuk melihat bagaimana kita menggunakannya.
Semakin kuat rasa memiliki terhadap dunia, semakin berat tangan untuk memberi.
Sebaliknya, semakin kuat keyakinan bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, semakin ringan seseorang berbagi.
Karena itu, kedermawanan bukan pertama-tama persoalan kemampuan.
Ia adalah persoalan hati.
Hati yang yakin bahwa Allah tidak akan pernah mengurangi rezeki hamba yang berinfak.
Hati yang percaya bahwa apa yang diberikan di jalan Allah tidak pernah hilang, melainkan disimpan sebagai bekal yang jauh lebih kekal.
Maka jika hari ini kita merasa sulit untuk memberi, jangan hanya bertanya, "Mengapa hartaku terasa berat keluar?"
Tetapi bertanyalah, "Sudah sejauh mana aku mengenal Rabbku yang Maha Pemurah?"
Sebab orang yang benar-benar mengenal Allah akan mencintai apa yang Allah cintai.
Dan di antara akhlak yang paling Allah cintai adalah kedermawanan.
Mungkin kita belum mampu memberi dalam jumlah besar.
Namun kita selalu mampu memulai dengan memberi sesuatu.
Sedikit harta.
Sedikit waktu.
Sedikit tenaga.
Sedikit ilmu.
Atau bahkan sekadar menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Karena di sisi Allah, yang dinilai bukan hanya berapa banyak yang kita berikan, tetapi juga seberapa lapang hati kita ketika memberi.
------
Ditulis Oleh : Pena Umat
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)