Beranda Kabar Berita Kemerdekaan Dimulai dari...
Kemerdekaan Dimulai dari Isi Kepala
Renungan Peradaban

KEMERDEKAAN DIMULAI DARI ISI KEPALA

Kemerdekaan Dimulai dari Isi Kepala

Indonesia mungkin telah merdeka sejak 1945. Tetapi bagi Buya Hamka, kemerdekaan tidak berhenti pada perginya penjajah dari tanah air. Ada kemerdekaan lain yang jauh lebih panjang perjuangannya: kemerdekaan manusia dalam berpikir.


Hamka adalah contoh bagaimana seorang anak dari Maninjau dapat tumbuh menjadi ulama, sastrawan, wartawan, pendidik, pemikir, politisi, sekaligus pejuang. Ia tidak dibentuk hanya oleh ruang kelas. Ia belajar dari ayahnya, dari surau dan masjid, dari para ulama, dari perjalanan, dari buku-buku, dan dari perjumpaannya dengan berbagai pemikiran.


Menurut buku karyanya Pandangan Hidup Muslimin, Hamka memang tidak menempuh pendidikan formal yang panjang. Namun rasa ingin tahunya tidak pernah berhenti. Ia mempelajari agama sekaligus sastra, sejarah, filsafat, sosiologi dan politik. Bahkan sejak muda ia telah masuk ke dunia jurnalistik dan kepenulisan.


Di sinilah salah satu pelajaran penting dari kehidupan Hamka: pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang bersekolah, tetapi tentang seberapa jauh ia bersedia terus berfikir dan belajar.


Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat bahwa pada 1924 Hamka merantau ke Jawa dan mempelajari gerakan Islam dari tokoh-tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto, H. Fachruddin, R.M. Suryopranoto dan St. Mansyur. Ia kemudian aktif sebagai wartawan, guru agama, mubalig, pengurus Muhammadiyah, editor, dan penulis.


Maka ketika Indonesia memasuki masa revolusi, Hamka sudah memiliki bekal yang tidak sedikit: ilmu, pengalaman, kemampuan menulis, kemampuan berbicara, serta jaringan dakwah dan organisasi.


Pada 1945, Hamka kembali ke Padang Panjang dan dipercaya memimpin Kulliyatul Muballighin. Pada masa inilah lahir sejumlah karya yang memperlihatkan kegelisahannya terhadap keadaan bangsa: Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Negara Islam, Islam dan Demokrasi, dan beberapa karya lainnya.


Perhatikan satu judul yang sangat menarik:

Revolusi Pikiran.


Hamka seolah ingin mengatakan bahwa sebuah bangsa tidak cukup hanya membebaskan tanahnya. Manusia yang hidup di dalamnya juga harus membebaskan pikirannya.


Sebab penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk tentara dan senjata. Manusia bisa saja hidup di negeri merdeka, tetapi pikirannya masih mudah ditundukkan oleh kebodohan, ketakutan, fanatisme, atau budaya mengikuti tanpa memahami.


Karena itu, perjuangan pendidikan sesungguhnya adalah bagian dari perjuangan kemerdekaan.


Hamka sendiri menjalani gagasan itu sepanjang hidupnya. Ia tidak memilih hanya satu peran. Ia menjadi ulama, tetapi juga menulis novel. Ia menjadi sastrawan, tetapi juga berbicara tentang politik. Ia berdakwah, tetapi juga menulis sejarah. Ia mendidik, memimpin organisasi, dan ikut dalam pergulatan kebangsaan.


Penelitian akademik tentang Hamka bahkan menunjukkan bahwa kontribusinya menonjol dalam tiga bidang sekaligus: politik, pendidikan, dan sastra.


Inilah yang barangkali semakin kita butuhkan hari ini.


Kita sering bertanya, “Generasi seperti apa yang akan membangun Indonesia?”


Mungkin jawabannya bukan hanya generasi yang pintar mendapatkan pekerjaan. Bukan hanya generasi yang pandai berbicara. Bukan pula generasi yang memiliki banyak pengikut.


Kita membutuhkan generasi yang mau belajar luas, berpikir merdeka, berkarya, berdakwah, dan mengambil tanggung jawab atas keadaan negerinya.


Hamka menunjukkan bahwa ilmu tidak seharusnya membuat seseorang berhenti pada dirinya sendiri. Ilmu harus melahirkan karya. Karya harus memberi manfaat. Dan manfaat itu seharusnya kembali kepada umat dan masyarakat.


Barangkali itulah makna kemerdekaan yang perlu kita bicarakan kembali.


Bukan sekadar merdeka dari penjajahan masa lalu, tetapi merdeka untuk belajar. Merdeka untuk berpikir. Merdeka untuk berkarya. Merdeka untuk menyampaikan kebenaran. Dan merdeka untuk mengabdikan potensi diri kepada agama dan negeri.


Hari ini kita tidak sedang diminta menjadi Hamka.


Tetapi kita bisa bertanya kepada diri sendiri:


Jika Hamka hidup di zaman kita, generasi seperti apa yang ingin ia lahirkan?

Mungkin generasi yang tidak hanya menjadi penonton sejarah.


Generasi yang membaca lebih banyak, berpikir lebih dalam, menulis lebih banyak, berkarya lebih luas, dan berani mengambil peran.

Generasi yang memiliki banyak kemampuan, tetapi tetap memiliki satu arah: membangun negerinya dan menegakkan agamanya.


Sebab kemerdekaan yang diwariskan kepada kita bukanlah akhir dari perjuangan.

Ia adalah amanah untuk melahirkan generasi baru yang sanggup meneruskan perjuangan ini.


---

Ditulis Oleh : Pena Umat

---


Referensi :

HAMKA – Pandangan Hidup Muslimin — Terbitan Gema Insani 2020

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa – Hamka

Hamka: Tokoh Ulama Nusantara – Jurnal Islam dan Masyarakat Kontemporari

Filsafat Sejarah Hamka – Jurnal Theologia


----


Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id