Beranda Kabar Berita Ketidakpuasan Beramal
Ketidakpuasan Beramal
Renungan Peradaban

KETIDAKPUASAN BERAMAL

Ketidakpuasan Beramal

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:


"Sebagian ulama salaf, apabila selesai mengerjakan satu shalat, mereka beristighfar atas kekurangan dalam shalat tersebut, sebagaimana seorang yang berdosa memohon ampun atas dosanya."


Sumber: Ibnu Rajab, Laṭā'if al-Ma'ārif.


--------

Begitulah generasi terdahulu memandang amal.


Selesai shalat, mereka tidak merasa telah mempersembahkan ibadah yang sempurna. Mereka justru melihat kekurangan dirinya, lalu beristighfar kepada Allah.


Bahkan Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk mengucapkan istighfar tiga kali setelah selesai shalat.

Bukan karena shalat adalah kemaksiatan, tetapi karena seorang hamba menyadari bahwa dalam ibadah terbaiknya sekalipun selalu ada kekurangan yang membutuhkan ampunan Allah.


Inilah ketidakpuasan dalam beramal.


Bukan ketidakpuasan yang melahirkan keputusasaan, melainkan ketidakpuasan yang lahir dari tawadhu. Semakin banyak beramal, semakin takut amalnya belum sempurna. Semakin tinggi kedudukannya, semakin kecil ia memandang dirinya di hadapan Allah.


Barangkali inilah salah satu ruh yang membentuk generasi besar dalam sejarah Islam.


Jika dalam amal pribadi seperti shalat saja mereka selalu mencari kekurangan, maka dalam amanah keluarga mereka berusaha memberikan yang terbaik. Ketika memikul urusan masyarakat, mereka ingin menghadirkan manfaat yang lebih besar. Ketika diberi ilmu, harta, kekuasaan, dan kemampuan, semuanya diarahkan untuk menjadi bekal menuju akhirat.


Mereka tidak berhenti pada kesalehan pribadi.


Kesalehan itu bergerak keluar: mendidik keluarga, mengajarkan ilmu, membangun madrasah, menolong sesama, menegakkan keadilan, hingga menghadirkan karya-karya yang manfaatnya dirasakan lintas generasi.

Mereka zuhud terhadap dunia, tetapi bukan berarti meninggalkan dunia.


Dunia berada di tangan mereka, bukan menguasai hati mereka. Harta, ilmu, kedudukan, dan kekuasaan hanyalah kendaraan yang ditunggangi untuk mengejar akhirat.


Karena itu, jangan pernah merasa cukup dengan amal.


Selesai satu kebaikan, carilah kebaikan berikutnya.


Selesai membangun diri, bangunlah keluarga.


Selesai menguatkan keluarga, hadirkan manfaat bagi masyarakat.


Sebab peradaban besar tidak dibangun oleh orang-orang yang cepat puas dengan kebaikannya.


Ia dibangun oleh manusia yang terus beramal, namun hatinya tetap merasa fakir di hadapan Allah.


Orientasi mereka akhirat. Tujuan mereka Allah. Dan dunia hanyalah jalan untuk sampai kepada-Nya.


----


Oleh : Pena Umat


Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id