Beranda Kabar Berita Eps 1 - Perjalanan Menem...
Eps 1 - Perjalanan Menemukan Peran
Fiksi Historis

EPS 1 - PERJALANAN MENEMUKAN PERAN

Eps 1 - Perjalanan Menemukan Peran

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا ...

"Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu."

(QS. Thaha: 114)



------------



Baghdad terbangun sebelum matahari benar-benar meninggi.


Dari tepian Sungai Tigris, perahu-perahu mulai berdatangan membawa gulungan kertas, tinta, kulit kambing untuk sampul kitab, dan peti-peti kayu yang entah berisi manuskrip atau barang dagangan. Buruh pelabuhan memanggul muatan mereka, sementara para pedagang saling memanggil menawarkan barang dengan suara yang bersahutan.


Di jalan menuju pusat kota, deretan Warraq (pedagang buku, kertas, tinta, sekaligus penyedia jasa penyalinan manuskrip), mulai membuka kedainya. Sebagian menggantung lembaran-lembaran kertas di depan toko agar pembeli dapat melihat kualitasnya. Sebagian lagi sibuk menyusun kitab di atas rak kayu. Bau tinta hitam yang masih basah bercampur dengan aroma kulit yang baru dijilid, memenuhi udara pagi Baghdad.


Di sudut lain, para penuntut ilmu berjalan tergesa menuju Halaqah (majelis tempat seorang guru mengajar murid-muridnya). Ada yang membawa papan tulis kayu, ada yang menggenggam pena dari batang alang-alang yang telah diraut, ada pula yang memeluk kitab seolah takut terjatuh.


Bagi kebanyakan orang, pagi di Baghdad selalu memiliki tujuan.


Namun tidak bagi Ahmad bin Yusuf.


Pemuda itu berdiri cukup lama di sebuah persimpangan jalan, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang tanpa benar-benar melihat mereka.


Kakinya seolah ingin melangkah, tetapi pikirannya belum menentukan arah. Selama bertahun-tahun, hidupnya terasa begitu sederhana. Setiap pagi ia berjalan menuju Kuttab (tempat anak-anak belajar membaca Al-Qur'an, menulis, berhitung, dan dasar-dasar ilmu agama). Sore hari ia membantu ayahnya menjaga lapak kurma di pasar. dan ia melanjutkan pendidikan di Madrasah (Jenjang pendidikan Muslimin setelah Kuttab) untuk memperkuat ilmu agamanya.


Kini semuanya berubah. Ketika belajar di Madrasah telah selesai beberapa pekan lalu. Tidak ada lagi guru yang harus ia kejar. Tidak ada lagi teman-teman yang duduk melingkar mengulang hafalan. Untuk pertama kalinya sejak kelulusan Madrasah, Ahmad bangun pagi tanpa mengetahui ke mana ia harus pergi. 



"Ahmad!"

Sebuah suara membuyarkan lamunannya.

Hasan melambaikan tangan dari kejauhan, diikuti tiga sahabat mereka.


"Wah, tepat sekali bertemu di sini," kata Hasan sambil tersenyum lebar.

"Aku baru saja diterima belajar kepada Syaikh Abu Zakariya. Mulai besok aku ikut halaqah beliau."


"Ayahku membawaku ke Diwan," sambung sahabat lain dengan bangga.


"Katanya aku akan belajar menjadi katib, juru tulis pemerintahan." Yang ketiga tertawa kecil.


"Aku ikut pamanku berdagang ke Basrah. Kata beliau, perjalanan juga mengajarkan ilmu yang tidak ditemukan di dalam kitab."


Mereka lalu menoleh kepada Ahmad. "Lalu kau?"


Ahmad membuka mulut, tetapi tidak segera menjawab.


Pertanyaan itu sederhana.

Namun sejak beberapa hari terakhir, pertanyaan itulah yang paling sulit ia jawab.


"Aku..." Ia tersenyum tipis.

"Aku belum tahu."


Keempat sahabatnya saling berpandangan. Tak seorang pun mengejek. Mereka hanya menepuk bahu Ahmad sebelum berpamitan.


"Semoga Allah menunjukkan jalanmu."


Ahmad mengangguk sambil membalas senyum mereka.


Namun ketika punggung sahabat-sahabatnya semakin menjauh di tengah keramaian Baghdad, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak iri kepada mereka. Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sedang tertinggal.



Ahmad tidak segera pulang.


Langkahnya membawanya menyusuri jalan-jalan Baghdad tanpa tujuan yang jelas. Biasanya ia berjalan cepat, seolah setiap langkah telah ditentukan oleh jadwal pelajaran di Kuttab dan Madrasah. Hari itu berbeda. Untuk pertama kalinya ia membiarkan kakinya memilih arah sendiri.


Di kiri-kanan jalan, Baghdad sedang menunjukkan wajah terbaiknya. Seorang pembuat pena duduk di depan tokonya, meraut batang alang-alang dengan pisau kecil hingga ujungnya membentuk celah halus. Di sampingnya, beberapa pemuda memilih pena satu per satu, mencobanya di atas lembaran kertas sebelum membayar.


Tak jauh dari sana, seorang warraq, sedang melayani pembeli. Rak-rak kayu di depan tokonya dipenuhi kitab dengan sampul kulit berwarna cokelat tua. Di bagian belakang, dua orang penyalin duduk berhadapan, menunduk tanpa banyak bicara. Tangan mereka bergerak cepat mengikuti baris demi baris tulisan asli yang terbentang di hadapan. 


Ahmad berhenti sejenak.



Ia memperhatikan salah seorang penyalin yang sesekali meniup ujung penanya agar tinta tidak menetes berlebihan.


"Sudah tiga hari dia mengerjakan kitab itu," kata seorang lelaki tua yang berdiri di samping Ahmad.


Ahmad menoleh.


"Apakah menyalin kitab selama itu tidak membosankan?"


Lelaki tua itu tersenyum.


"Kalau setiap huruf menjadi jalan agar ilmu sampai kepada orang lain, mana mungkin membosankan?" Ahmad mengangguk pelan.


Kalimat itu terus terngiang bahkan ketika ia kembali melangkah. 



Beberapa puluh langkah kemudian, suara ketukan palu menarik perhatiannya.

Seorang mujallid (penjilid kitab) sedang memperbaiki sampul sebuah manuskrip tua.


Jemarinya penuh bekas lem. Di dekat kakinya berserakan benang linen, potongan kulit, dan papan kayu tipis yang akan menjadi sampul baru.


Ahmad memperhatikan dengan heran. Selama belajar di Kuttab dan Madrasah, ia hanya mengenal kitab sebagai benda yang siap dibaca. Hari itu baru ia menyadari bahwa ada orang-orang yang menghabiskan hidupnya hanya untuk memastikan kitab-kitab itu tetap utuh.



kemudian, Ia kembali berjalan...


Di depan sebuah masjid, halaqah-halaqah mulai berlangsung.


Seorang guru dikelilingi belasan murid yang duduk melingkar. Sebagian menulis, sebagian hanya menyimak dengan kepala tertunduk. Ahmad sempat berhenti. Hasrat untuk bergabung muncul sesaat. Namun ia melangkah lagi. Entah mengapa, hari itu ia merasa belum menemukan tempat duduknya.


Matahari mulai meninggi ketika langkahnya membawanya ke sebuah jalan yang lebih lebar daripada jalan-jalan sebelumnya. Di kejauhan tampak sebuah bangunan besar dengan gerbang tinggi dari batu berwarna kekuningan. Orang-orang keluar masuk tanpa henti. Ada ulama dengan sorban putih. Ada pedagang membawa peti kayu. Ada musafir yang pakaiannya masih berdebu. Ada pelayan yang memikul tumpukan kitab. Tidak jauh dari gerbang, seorang anak kecil membantu ayahnya mengangkat gulungan-gulungan kertas. Ahmad berdiri cukup lama.


"Inikah..." gumamnya lirih.


"...Baitul Hikmah?" Selama ini ia hanya mendengar namanya dari guru-guru di Kuttab dan Madrasah. Rumah Hikmah.


Tempat para ulama berkumpul. Tempat kitab-kitab dari berbagai negeri disimpan.

Tempat ilmu berkembang. Namun kenyataan yang ia lihat justru berbeda dari bayangannya.


Ia mengira hanya para ulama yang boleh memasuki tempat itu. Tetapi di depan matanya, orang-orang dari berbagai kalangan datang silih berganti. Seorang lelaki tua membawa tinta. Seorang pemuda mengangkat peti. Seorang budak perempuan memikul beberapa kitab tebal. Seorang musafir berpakaian lusuh diterima masuk tanpa dihalangi.


Ahmad mengerutkan dahi.


"Apa sebenarnya yang terjadi di dalam sana?" Tanpa sadar, ia duduk di bawah pohon yang tumbuh di seberang gerbang. Matanya tak pernah lepas dari pintu besar Baitul Hikmah.


Sore itu ia pulang tanpa satu jawaban pun. 



Namun esok paginya...

langkahnya kembali menuju tempat yang sama.


Hari keempat.


Ahmad kembali duduk di bawah pohon yang sama.


Ia mulai hafal irama pagi di depan Baitul Hikmah.

Saat matahari belum tinggi, para warraq berdatangan membawa gulungan kertas.

Beberapa saat kemudian, para nassakh (penyalin kitab dengan tulisan tangan) masuk sambil membawa kotak kayu berisi pena dan tinta.


Setelah itu, para penuntut ilmu memenuhi halaman.


Menjelang siang, para musafir mulai berdatangan dari berbagai penjuru.

Seolah-olah setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk memasuki rumah ilmu itu.


Ahmad hanya mengamati. Ia bahkan mulai mengenali wajah-wajah yang sama.


Seorang lelaki tua yang selalu datang membawa dua peti kecil. Budak perempuan yang hampir setiap hari mengangkat tumpukan kitab lebih tinggi daripada bahunya. Seorang pemuda kurus yang setiap pagi menyapu halaman.


Baginya, mereka semua tampak biasa. Namun anehnya, tak seorang pun terlihat menganggur. Semua memiliki pekerjaan. Semua bergerak dengan tujuan.


"Anak muda."

Suara itu terdengar pelan.


Ahmad menoleh.


Seorang lelaki tua berdiri beberapa langkah darinya.

Jubahnya sederhana. Tidak mewah. Sorbannya pun berwarna putih dan sedikit kusam. Kalau bertemu di pasar, mungkin tak ada yang mengira ia memiliki kedudukan penting.


Lelaki itu tersenyum tipis.


"Bolehkah aku duduk di sini?"


Ahmad segera bergeser.


"Tentu."


Lelaki tua itu duduk di sampingnya.



Beberapa saat mereka hanya memandang gerbang Baitul Hikmah.


Tak ada yang berbicara.


Justru keheningan itu membuat Ahmad sedikit canggung.


Akhirnya lelaki tua itu membuka percakapan.

"Sudah beberapa hari aku melihatmu."


Ahmad menoleh kaget.

"Melihatku?"


Lelaki itu mengangguk.

"Hampir setiap pagi."


Ahmad menunduk malu.

"Aku khawatir aku mengganggu."


"Tidak." Lelaki itu menggeleng pelan.

"Aku hanya penasaran."


"Penasaran apa?"


"Mengapa seorang pemuda datang setiap hari ke depan rumah ilmu..."

"...tetapi tidak pernah masuk."


Ahmad terdiam.


Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


Setelah beberapa saat, barulah ia berkata lirih.

"Aku sedang mencari jalan."


"Jalan ke mana?"


Ahmad menarik napas panjang.

"Teman-temanku sudah memiliki tujuan."

"Ada yang belajar hadits."

"Ada yang belajar fiqih."

"Ada yang menjadi penulis."

"Ada yang ikut berdagang."

"Tapi aku..." Ia memandang kedua telapak tangannya.



"...aku belum tahu Allah menyiapkanku untuk apa." Lelaki tua itu tidak segera menjawab.


Ia justru ikut memandang orang-orang yang keluar masuk Baitul Hikmah.


Beberapa saat kemudian ia bertanya,

"Menurutmu..."

"...siapa saja yang ada di dalam rumah itu?"


Ahmad menjawab cepat. "Para ulama."


"Hanya itu?"


Ahmad mengangguk. 


"Bukankah memang demikian? Bukankah Baitul Hikmah adalah tempat para ulama?" lanjutnya.


Lelaki tua itu tersenyum kecil.

Lalu ia menunjuk ke arah gerbang.


"Lihat lelaki yang baru masuk itu."


Ahmad mengikuti arah telunjuknya. 



Seorang lelaki membawa beberapa gulung kertas di pundaknya.


"Itu bukan ulama."

"Itu hanya pengantar kertas."


Beberapa saat kemudian seorang perempuan melintas membawa tumpukan kitab.


"Kalau yang itu?"


Ahmad menggeleng.

"Aku tidak tahu."


"Itu munawil." Lelaki tua itu menjelaskan pelan.

"Orang yang bertugas mengambil dan mengantarkan kitab dari rak kepada para pembaca dan penyalin."


Tak lama kemudian seorang lelaki keluar sambil membawa kitab yang baru selesai dijahit.


"Kalau yang itu?"


Ahmad kembali menggeleng.


"Itu mujallid."

"Penjilid kitab."

"Kalau ia tidak bekerja..."

"...banyak kitab akan rusak sebelum sempat dibaca generasi berikutnya."


Ahmad mulai memperhatikan lebih saksama.


Untuk pertama kalinya... ia tidak lagi melihat kerumunan manusia. Ia mulai melihat pekerjaan mereka. Ia mulai melihat peran mereka. Lelaki tua itu kembali bertanya.


"Kalau semua orang itu berhenti bekerja..."

"...menurutmu, apakah para ulama masih bisa mengajar dengan tenang?"


Ahmad tidak mampu menjawab. Pertanyaan itu sederhana. Namun seolah membuka pintu yang selama ini tak pernah ia sadari. Lelaki tua itu berdiri perlahan. Debu tipis menempel di ujung jubahnya.


"Aku harus kembali bekerja."

Ahmad buru-buru berdiri.


"Maaf..."

"Aku belum sempat bertanya."

"Siapa nama Tuan?"

Lelaki tua itu tersenyum.


"Sahl."

"Sahl bin Harun."


Beliau melangkah menuju gerbang Baitul Hikmah. Namun sebelum masuk, ia berhenti sejenak.

Tanpa menoleh, ia berkata,


"Kalau besok kau masih ingin mencari jalanmu..."

"...datanglah lebih pagi."

"Aku akan memperlihatkan sesuatu yang belum pernah kau lihat."

Sahl melangkah masuk.


Gerbang besar itu kembali tertutup. Ahmad tetap berdiri memandangnya. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Kuttab dan Madrasah...


ia merasa telah menemukan seseorang yang mungkin dapat menunjukkan arah. 



Bersambung ...


[BACA EPS 2] - Klik disini


-------


Ditulis oleh : Pena Umat

-----

Serial cerita fiksi historis ini InsyaAllah terbit setiap hari Ahad ...


Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id