Beranda Kabar Berita Sesungguhnya, Saya Kecew...
Sesungguhnya, Saya Kecewa Disini ...
Kabar Generasi

SESUNGGUHNYA, SAYA KECEWA DISINI ...

Sesungguhnya, Saya Kecewa Disini ...

Sore itu bukan sore yang istimewa. Angin berhembus lembut, seperti biasa, menyapa satu per satu santri yang tumpah ruah mengisi waktu istirahat setelah seharian bergelut dengan ilmu. Ada yang mengejar bola di lapangan, ada yang berlari mengelilingi asrama dengan napas yang masih tersengal, dan ada pula yang mengulang perlahan jurus-jurus jiujitsu yang mereka pelajari sejak pagi, gerakan demi gerakan, seolah tubuh mereka sedang menghafal sesuatu yang lebih dari sekadar teknik bela diri.


Dan saya, sore itu punya agenda sendiri. Bukan dengan bola, bukan dengan keringat di lapangan, tapi dengan seseorang yang perannya sangat saya butuhkan.



Saya duduk di kursi Hikayat Caffee, Madrasah Al-Fatih Situdaun, Bogor. Tempat ini akrab dengan suara rekaman, akrab dengan lensa kamera yang mengabadikan obrolan-obrolan berat tentang peradaban, sebab di sinilah biasanya Hikayat Podcast disyuting, tempat guru kita Kyai Budi Ashari duduk bersama Waalid Ilham dan Ncang Syahril, mengurai pelajaran demi pelajaran untuk didengar banyak orang. Tapi sore itu, kursi yang sama menjadi saksi obrolan yang mungkin tak akan pernah disiarkan, tak akan pernah direkam, dan tak akan pernah jadi konten.


Saya menunggu, dan tak lama, orang yang saya tunggu datang. Seorang pemuda dengan penampilan kekinian, yang jika dilihat sekilas, gen Z hari ini akan langsung memberinya label "kalcer". Ia menghampiri saya, mengulurkan tangan untuk bersalaman, lalu duduk di hadapan saya.


Dua gelas kopi menemani kami sore itu, mengepul pelan di kursi halaman luar Hikayat Caffee, seakan ikut menjadi pendengar setia dari kisah yang akan mengalir setelahnya.


--


Nama pemuda ini, sebut saja Malik. Saya sudah lama terpukau padanya, jauh sebelum sore itu, lewat karya-karya yang ia buat dalam beberapa skrip film karya santri-santri Madrasah Al-Fatih. Ada bahasa yang menghujam, ada kalimat yang terasa dalam, dan yang aneh rasanya jika saya percaya itu lahir dari seorang santri. Ya, santri. Bukan sutradara ternama yang sudah malang melintang, bukan sineas profesional yang bertahun-tahun bergelut di industri, tapi seorang santri, yang usianya bahkan belum genap seperempat abad.


Bermula dari obrolan tentang film, saya dan Malik berbincang ke sana kemari, menyusuri lorong-lorong ingatannya. Ia bercerita, dulu di Kuttab, dirinya adalah santri yang kerap menjuarai lomba cerdas cermat, seorang anak yang tak pernah puas hanya berhenti di satu bidang. Orang tuanya, selain mendukungnya menimba ilmu di Kuttab, juga memberi ruang baginya untuk belajar ilmu-ilmu umum di sekolah formal. Maka jadilah ia menguasai matematika, bahasa Inggris, IPA, dan pelajaran umum lainnya dengan baik, sampai berkali-kali membawa pulang gelar juara dari lomba cerdas cermat. Terlihat jelas, dari caranya bercerita, dari caranya menyusun kalimat, bahwa Malik adalah pemuda dengan kapasitas berpikir yang jauh melampaui usianya, melampaui rata-rata remaja hari ini.


Di bangku Hikayat Caffee itu, saya cukup terkejut mengetahui bahwa selain aktif di Media Madrasah Al-Fatih, Malik juga mengemban amanah sebagai guru Halaqoh. Belum cukup di situ, ia juga aktif di IQ (Idadul Qadah), semacam organisasi santri yang mengelola dinamika pesantren ini dari dalam, mungkin jika disandingkan dengan sekolah umum, perannya menyerupai OSIS. Ternyata, di balik penampilannya yang kekinian itu, Malik adalah pemuda yang begitu lekat dengan dunia organisasi di kalangan santri.


Dan ada satu hal lagi yang membuat saya terdiam sejenak: ternyata Malik pernah menghilang dari Madrasah selama satu tahun penuh. Bukan karena pindah sekolah, bukan karena berhenti di tengah jalan, tapi karena sakit, sakit yang cukup parah, sampai mengharuskannya menjalani perawatan selama dua belas bulan lamanya. Satu tahun, bagi seorang santri yang sedang membangun ritme belajar dan menghafal, bukan waktu yang singkat. Namun setelah dokter menyatakannya sembuh, ia kembali ke Madrasah ini, dan anehnya, ia tak kembali dengan langkah yang sama seperti sebelum sakit. Ia kembali dengan gerak yang lebih aktif, lebih hidup, seolah satu tahun yang hilang itu justru menyalakan sesuatu di dalam dirinya.


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya saya, mewakili rasa penasaran yang mungkin juga hinggap di benak para pembaca.


Dan tanpa jeda panjang untuk berpikir, seolah jawaban itu sudah lama mengendap di dadanya, Malik menjawab pelan,

"Karena saya pernah kecewa di sini ..."



Jawaban itu membuat saya mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa seorang pemuda yang berperan begitu aktif di Madrasah Al-Fatih ini, yang namanya lekat dengan media, dengan Halaqoh, dengan organisasi santri, justru menyimpan alasan seperti itu di balik setiap perannya?


"Iya, Kang. Saya dulu kecewa di sini ... bahkan saya pernah ingin keluar dari sini ..." lanjutnya, suaranya datar, tapi ada sesuatu yang berat di baliknya.


"Tapi orang tua saya menguatkan saya untuk tetap bertahan. Dan Allah kasih saya jalan, untuk sedikit berperan memperbaiki apa yang kurang di sini ..."


"Bahkan, di setiap keaktifan saya di organisasi Madrasah ini, saya nggak pernah ragu melayangkan kritik dan masukan. Karena saya mau, Madrasah ini bisa terus bergerak ke arah yang lebih baik ..."


Penjelasan itu membuat saya tersenyum sendiri. Ada kaget, ada bangga, dua rasa yang datang bersamaan, masuk ke hati saya nyaris di waktu yang sama. Sebab, secara fakta, kurikulum dan sistem pendidikan yang dibangun di Madrasah Al-Fatih adalah sesuatu yang baru di zaman ini, sesuatu yang sedang dirintis, bukan sesuatu yang sudah paripurna sejak awal. Jika pada masa keemasan peradaban Islam, madrasah adalah mercusuar yang menerangi zamannya, melahirkan generasi berkualitas lewat karya-karya besar mereka, maka Madrasah Al-Fatih hari ini sedang menapaki jalan yang sama, jalan menuju kebesaran itu. Namun dengan kualitas manusia yang tentu tidak persis sama dengan generasi pembangun peradaban Islam di masa lalu, maka sudah pasti banyak hal yang masih terus berkembang, terus berproses menuju perbaikan. Dan proses seperti ini, mau tidak mau, menuntut kesabaran untuk dijalani, bukan kesabaran yang pasif, tapi kesabaran yang aktif bergerak dari dalam.


Semua itu pilihan. Sebab tidak sedikit di antara santri yang memilih pergi, memilih pindah sekolah ketika rasa kecewa itu datang menghampiri. Tapi Malik, ia memilih jalan yang berbeda. Ia bertahan, dan menjadikan dirinya bagian dari proses perbaikan itu sendiri.


Banyak hal yang ia ceritakan pada saya sore itu, tentang kekecewaannya pada lembaga tempatnya menimba ilmu ini. Tapi ada satu kalimat darinya yang membuat saya benar-benar bangga, satu kalimat yang seolah menjadi kunci dari semua yang ia lakukan,


"Kita ini sering mengkritik sesuatu, yang seharusnya bisa kita perbaiki dari diri sendiri dulu ..."


Dan dari kalimat itulah saya paham, mengapa peran aktifnya di Madrasah Al-Fatih ini justru lahir dari rasa "kecewa" nya. Malik tidak sekadar mengkritik dan berhenti di situ, ia juga memberi solusi, lewat peran-peran nyata yang ia jalani di sini.


Maka izinkan saya menceritakan, apa saja yang sudah ia lakukan setelah rasa kecewa itu hadir dan mengendap di dalam dirinya. Pelan-pelan, mari kita simak bersama.


--


Belajar Mengajar


Ternyata, kekecewaan pertamanya justru datang dari denyut paling utama lembaga ini: belajar mengajar. Ya, proses belajar mengajar adalah jantung dari sebuah lembaga pendidikan, dan justru di situlah letak kekecewaannya bermula. Banyak hal yang ia ceritakan pada saya tentang kekecewaannya pada cara belajar mengajar di sini, bukan hanya menyoal murid, tapi juga guru, bahkan sampai orang tua pun tak luput dikritisinya.


Namun Allah punya cara sendiri untuk menjawab kekecewaan itu. Allah memberinya jalan untuk membuktikan pada dirinya sendiri, tentang solusi apa yang seharusnya ia berikan. Jalan itu bernama: menjadi guru Halaqoh.


Dan yang membuat saya tercekat, di tahun pertamanya menjadi guru Halaqoh, ia diamanahi 14 santri, bukan santri biasa, tapi 14 santri dengan rapor merah. Santri-santri yang hafalan Qurannya minim, daya tangkapnya lemah, bahkan ada di antara mereka yang begitu introvert hingga sulit sekadar bersosialisasi dengan teman sebayanya.


Di titik inilah bagian paling menarik dari cerita Malik dimulai. 14 santri berkategori "sulit" itu, di tangannya, perlahan disulap menjadi santri-santri terbaik di versi diri mereka masing-masing. Bukan dengan cara instan, bukan dengan target yang dikejar-kejar dalam semalam, tapi dengan proses panjang, penuh kesabaran, yang ditempuh pelan-pelan, hari demi hari. Kekecewaannya pada lembaga ini, ternyata, ia jawab justru lewat perannya sebagai guru Halaqoh.


Ia mengajak 14 santri itu ngobrol, satu per satu, bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Dan tak jarang, ia merogoh kocek uang pribadinya sendiri, mengajak mereka ke warung, jajan bersama, ngobrol dari hati ke hati, satu per satu, tanpa terburu-buru. Hal pertama yang ia lakukan bukan menyodorkan target hafalan, tapi menggali akar masalah dari setiap santri: kenapa hafalan Qurannya minim? Kenapa daya tangkapnya lemah? Kenapa ia begitu tertutup dari dunia luar? Semua ia telusuri satu demi satu, dengan sabar, dengan telaten.


Dan usahanya tak berhenti di situ. Ia juga merangkul orang tua mereka, mengumpulkan dalam satu grup WhatsApp, memanfaatkan fasilitas smartphone yang memang sudah menjadi hak guru Halaqoh untuk digunakan sebaik-baiknya. Di grup itu, Malik rutin memberi kabar, memberi update, tentang perkembangan pendidikan anak-anak mereka, membangun jembatan komunikasi yang selama ini mungkin renggang antara rumah dan asrama.


Dari sinilah, sebagai seorang guru, Malik membangun hubungan yang erat, bukan hanya dengan murid-muridnya, tapi juga dengan orang tua mereka. Sinergi inilah yang ia rawat sejak pertama kali memegang amanah mengajar Halaqoh. Dan tahukah kalian, apa hasil dari sentuhan itu? Ya, MasyaAllah Tabarakallah ...


14 santri dengan rapor merah itu, capaiannya melesat drastis. Yang dulunya hanya sanggup menghafal satu ayat dalam sehari, kini mampu menghafal satu halaman penuh dalam sehari. Yang dulunya hanya sanggup satu halaman sehari, kini melompat menjadi tiga halaman sehari. Yang dulunya baru mengantongi dua juz, kini menembus sepuluh juz. Dan di penghujung tahun ajaran, satu per satu dari mereka, semuanya, tuntas menghafal dan mutqin 30 juz.


Kekaguman saya tidak berhenti di angka-angka hafalan itu saja. Malik juga membimbing santri-santrinya untuk menemukan jalan dan peran mereka masing-masing di luar hafalan. Ada yang punya minat di dunia kesehatan, maka Malik mengajaknya berdialog panjang tentang dunia kesehatan, bahkan sampai mencarikan jurnal-jurnal kedokteran untuk mereka baca dan pahami bersama. Dan yang lebih dahsyat lagi, dari proses membaca jurnal-jurnal kesehatan itu, mereka sampai merumuskan sendiri sebuah konsep makanan bernutrisi lengkap, hasil olah pikir mereka sendiri. Sementara bagi santri-santri yang punya jiwa bisnis, Malik membuatkan wadah agar mereka bisa mempraktikkan langsung, meski masih dalam skala kecil: berjualan kaos, camilan ringan, dan lain sebagainya.


Anak-anak dengan rapor merah itu, di tangan Malik, kini bukan sekadar menghafal Al-Quran. Mereka telah menemukan jalan mereka sendiri untuk berperan dalam kehidupan. Kekecewaannya pada sistem belajar mengajar di sini, pada akhirnya, justru menjadi alasan ia memperbaiki sistem belajar mengajar itu sendiri, dari dalam, dengan tangannya sendiri.


--


Karya


Tak berhenti di ruang Halaqoh, kekecewaan Malik juga merambat ke ranah lain: karya. Di sinilah ia mengajak teman-temannya bergerak bersama, terutama di divisi media. Jika sebelumnya karya santri hanya berkutat itu-itu saja, sekadar dokumentasi, sekadar konten harian, Malik mengajak mereka melangkah lebih jauh, membuat film. Namun bukan sembarang film. Ia dan timnya ingin membuat karya dengan standar profesional, standar yang selama ini mungkin dianggap terlalu tinggi untuk ukuran karya santri.


Untuk itu, beberapa anggota tim media Madrasah, termasuk Malik sendiri, sengaja mengikuti pelatihan film profesional. Ia mengambil bagian di penulisan naskah, sementara beberapa temannya mengisi posisi DOP (Director Of Photography) dan penyutradaraan. Dari kerja sama itu, lahirlah film pertama karya santri dengan sentuhan profesional, sebuah pencapaian yang menjadi alasan mengapa saya duduk berbincang dengan Malik sore itu.


Dan hari ini, kekecewaan yang dulu pernah menggerus hatinya, kini menjelma menjadi rangkaian peran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari kursi Halaqoh tempat ia membina 14 santri rapor merah, dari meja tempat ia menulis naskah demi naskah film, Malik terus bergerak, terus menjawab kekecewaan itu dengan karya yang nyata.


Dan kini, perannya kembali bertambah. Ia bukan lagi sekadar guru Halaqoh, bukan lagi sekadar penulis naskah. Malik kini turut mengambil bagian dalam ikhtiar besar Madrasahnya, sebuah ikhtiar penggalangan dana wakaf, untuk generasi santri yang akan datang.


Film "Diujung Nafas", yang dulu lahir sebagai bahasa gambar untuk menyalakan semangat para santri meraih sabuk biru di Jiu Jitsu, kini menemukan makna baru yang jauh lebih besar. Film yang dulu hanya berputar di ruang-ruang latihan, kini dibuka pemutarannya untuk seluruh wali santri Kuttab Al-Fatih di penjuru negeri, sebagai jalan untuk mereka turut berwakaf, membangun asrama, rumah baru bagi santri-santri generasi berikutnya yang akan datang setelah ini.


Betapa indah jalan yang Allah bentangkan. Sebuah karya yang dulu ditujukan untuk membakar semangat di atas matras, kini menjadi washilah untuk membangun tempat berteduh bagi generasi Qurani yang akan lahir setelahnya. Dan Malik, pemuda yang dulu pernah "kecewa" dan hampir memilih pergi, kini justru menjadi salah satu tangan yang Allah pilih untuk ikut membangun rumah itu, bata demi bata, wakaf demi wakaf.


Tapi perlu saya sampaikan, kisah Malik ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang tumbuh di lorong-lorong Madrasah Al-Fatih. Di sudut lain, di kelas lain, di halaqoh lain, ada Malik-Malik lain yang barangkali tak pernah saya temui, tak pernah saya ajak duduk di kursi Hikayat Caffee, tapi mereka menyimpan kegelisahan yang sama, semangat perbaikan yang sama. Ada yang kecewa pada fasilitas, lalu bergerak mencari solusi. Ada yang kecewa pada dirinya sendiri, lalu berbenah diam-diam tanpa ingin dilihat. Ada yang kecewa pada sistem, lalu memilih bertahan dan ikut membenahi dari dalam, seperti yang Malik lakukan.


Kisah Malik dalam tulisan ini hanyalah secuil dari peran-peran santri Madrasah Al-Fatih yang terus bergerak memperbaiki, bukan berhenti di rasa kecewa, tapi menjadikan kekecewaan itu sebagai titik awal untuk bergerak, untuk berkarya, untuk memberi arti.


MasyaAllah, sebuah karya luar biasa dari para pemuda ini. Mereka tidak berhenti hanya di titik mengkritik, tapi terus melangkah menunjukkan solusi. Mereka tidak berhenti hanya pada rasa kecewa, tapi mereka jadikan kekecewaan itu sebagai bahan bakar untuk melahirkan karya, karya yang kini menjadi jalan bagi kita semua, untuk turut ambil bagian membangun generasi yang akan datang.


---


Ditulis oleh : Pena Umat


----


Bagi Sobat Tarahum yang penasaran dengan film karya Malik dan teman-temannya, silahkan klik gambar dibawah ini.


Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id