WAWANCARA SANTRI DIBALIK LAYAR FILM
Wawancara Santri Dibalik Layar Film
Diujung Nafas adalah sebuah film yang lahir bukan dari ruang produksi mewah, bukan dari studio bergengsi, tapi dari lorong-lorong asrama, dari kelas teater sederhana, dan dari tangan-tangan santri yang belajar sambil terus menghafal Al-Quran. Film "Diujung Nafas", karya santri Madrasah Al-Fatih, kini menjadi buah bibir, bukan hanya karena kualitasnya yang menyentuh standar profesional, tapi karena kisah di baliknya yang tak kalah menggugah.
Saya berkesempatan berbincang dengan sang sutradara, Muhammad Nizar Abdurrahman, alumni Madrasah Al-Fatih yang kini menjadi salah satu penggerak utama di balik lahirnya film ini.
Nizar tidak sendirian. Bersamanya ada Muzaki dan Messi, dua nama yang menjadi tiga serangkai penggerak produksi ini.
"Penggerak lahirnya film ini ada tiga orang, saya Abdurrahman Nizar, Muzaki, dan Messi," ujarnya membuka obrolan.
Namun di balik tiga nama itu, ada barisan panjang santri lain yang turut ambil bagian, santri-santri yang selama satu tahun penuh digembleng di kelas teater binaan Waalid Ilham, serta beberapa santri senior yang memang sudah lebih dulu matang di dunia teater.
Satu tahun bukan waktu yang sebentar. Dan itu baru soal penyiapan talenta pemeran film. Ketika ditanya berapa lama proses pembuatan film ini berlangsung, Nizar menjawab dengan jujur, prosesnya memakan waktu empat hingga enam bulan. Namun jika dihitung sejak masa penyiapan talent, waktu yang mereka tempuh lebih dari setahun lamanya.
Sebuah proses panjang, yang tak hanya menuntut kemampuan teknis di depan dan belakang kamera, tapi juga kesabaran, sebuah nilai yang barangkali sudah lama akrab dengan keseharian mereka sebagai santri, yang setiap hari bergelut dengan hafalan, dengan target, dengan proses yang tak pernah instan.
Selain itu, selama proses produksi film ini, mereka merogoh kocek uang pribadi untuk proses produksinya, seperti membeli konsumsi untuk para pemeran film dan kru, membeli beberapa aksesoris media yang kurang, dan berbagai macam keperluan produksi film lainnya.
Ada banyak tantangan dari keterbatasan dalam pembuatan film ini, mulai dari penyiapan naskah cerita yang harus sesuai dengan kondisi santri, penjadwalan syuting yang mepet dengan waktu belajar, bahkan sampai menggantung kamera diatas jendela untuk sekedar mengambil adegan dialog diatas balkon asrama.
---
Tapi dari mana sebenarnya gagasan film ini bermula? Nizar membawa saya mundur ke sebuah momen yang menjadi titik nyala dari segalanya, sebuah keresahan ruhiyah dan jasadiyah yang pernah disampaikan oleh guru mereka, Kyai Budi Ashari, saat ujian kenaikan tingkat Jiu Jitsu beberapa waktu lalu.
"Hari ini kita belum ada apa-apanya, dibandingkan perjuangan saudara kita di Palestina," begitu pesan Kyai yang masih terngiang jelas di ingatannya. Kyai juga menegaskan, setiap lulusan Madrasah Al-Fatih, minimal harus mengantongi Ban Biru dalam Jiu Jitsu, sebuah standar yang bukan sekadar formalitas, tapi cerminan kesiapan fisik dan mental menghadapi zaman.
Dari pesan itulah, film ini semula dirancang untuk membakar semangat para santri, menjawab tantangan yang dilemparkan Kyai. Namun seiring proses penggarapan, pesan yang ingin disampaikan berkembang lebih dalam.
"Pesan utama yang ingin kita sampaikan di film ini, adalah ketika film ini bisa membuat kita merenung dan berkaca, sudah di level mana diri kita, dalam memperjuangkan kebesaran Islam ini," ujar Nizar.
Bukan sekadar tontonan yang menghibur sesaat, tapi undangan untuk berkaca, untuk bertanya pada diri sendiri, sejauh mana perjuangan yang sudah ditempuh, dibandingkan dengan pengorbanan saudara-saudara seiman di belahan bumi lain.
Lalu, bagaimana mungkin karya sekelas ini bisa lahir dari tangan-tangan santri, yang notabene bukan berasal dari latar belakang industri film? Nizar menjelaskan, semua berawal dari keseriusan mereka belajar langsung ke komunitas film profesional. Nizar sendiri fokus mendalami ilmu penyutradaraan, Muzaki menekuni videografi, sementara Messi memperdalam penulisan naskah film.
"Sehingga dari ilmu yang kita dapat, kita ingin mewujudkannya dalam karya film pertama dengan standar profesional ini," tegasnya. Bukan ilmu yang berhenti di teori, tapi ilmu yang mereka tempa langsung menjadi karya nyata, karya pertama mereka yang kini telah menjangkau ribuan pasang mata di seluruh Indonesia.
Sebuah karya yang diputar serentak di seluruh cabang Kuttab Al-Fatih se-Indonesia, tentu bukan beban yang ringan untuk dipikul oleh tiga pemuda ini. Saat saya tanya bagaimana perasaan mereka menjelang dan setelah pemutaran itu, Nizar menjawab dengan jujur, tanpa menutupi kegelisahannya.
"Jujur, perasaan ini takut. Apa yang sudah dibuat, khawatir miss understanding dari delivery pesan," ungkapnya. Sebuah kekhawatiran yang wajar, sebab pesan yang mereka bawa bukan pesan ringan, melainkan pesan tentang perjuangan, tentang muhasabah diri, tentang kebesaran Islam yang harus terus diperjuangkan.
Namun kekhawatiran itu perlahan sirna, seiring datangnya masukan dari para penonton. "Ternyata setelah saya dapat feedback-nya, Alhamdulillah banyak yang nangkep pesan yang kami maksud. Meskipun ada kritik, tapi itu untuk perkembangan kami. Ada rasa bahagia, karena kuttab-kuttab menangkap pesan filmnya," ujarnya dengan nada lega. Kritik yang datang, bukan mereka pandang sebagai penolakan, tapi sebagai bahan bakar untuk terus memperbaiki karya-karya berikutnya.
Dan dari satu karya ini, ternyata tersimpan cita-cita yang jauh lebih besar.
Nizar dan tim tidak ingin berhenti di satu judul film saja. "Kita ingin menghadirkan tontonan film bertema dakwah, namun tetap relevan. Karena hari ini, film Indonesia yang bertema dakwah itu hanya cinta saja," ungkapnya, menyoroti minimnya variasi tema dalam perfilman dakwah tanah air.
Mereka punya visi, membawa kebaikan bersama-sama, di tengah industri film Indonesia yang menurutnya masih banyak diwarnai hal-hal negatif, sekadar mengejar keuntungan materi semata. "Kita ingin bikin Production House sendiri, untuk menghasilkan karya yang berpijak pada syariat dan ilmu," tutupnya penuh keyakinan.
Sebuah cita-cita yang lahir dari asrama, dari kelas teater sederhana, kini menjelma menjadi visi besar untuk memperbaiki wajah perfilman dakwah Indonesia, satu karya, satu pesan, satu langkah pada satu waktu.
----
Ditulis Oleh : Pena Umat
----
Simak Trailer Film Diujung Nafas :
Untuk Sobat Tarahum yang ingin menyimak full filmnya, silahkan simak disini dengan memberikan wakaf terbaiknya, klik gambar dibawah ini :
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)